Telegram Terkena DDoS, CEO: Serangan dari China | BECABUILT

Telegram Terkena DDoS, CEO: Serangan dari China

Jakarta, becabuilt.technology – CEO Telegram, Pavel Durov, akhirnya angkat bicara terkait dengan layanan pesan instan yang dikembangkannya mengalami pemadaman di sejumlah negara Amerika Latin, sebagian Uni Eropa, dan Asia.
“Alamat IP kebanyakan berasal dari China,” tulis Durov dalam akun Twitter-nya, Kamis (13/6/2019). Ia menduga serangan itu dilakukan oleh aktor negara melihat ukuran serangan “sampah” yang mencapai 200-400 Gb/detik.

Diberitakan sebelumnya, Telegram mengalami pemadaman lantaran serangan siber berupa DDoS. DDoS atau Distributed Denial of Service Attack adalah serangan siber dengan cara membanjiri lalu lintas jaringan internet pada server. Tujuannya, agar lalu lintas server menjadi lambat berjalan. Serangan itu biasanya menggunakan botnet.

Berita Terkait:

Unjuk Rasa di Hong Kong, Telegram Sempat Tak Bisa Diakses

Di situs web DownDetector , sejumlah negara yang terkena imbas pemadaman daerah Amerika Latin, seperti Brasil, Argentina, Uruguay, Puerto Riko, dan Paraguay. Di Eropa, warganet yang mengalami gangguan di Italia, Prancis, Portugal, Moskow, London, Ukraina, dan Jerman.
Namun, di situs web DownDetector, laporan kondisi down hingga berita ini ditulis telah menurun; belum ada kabar terbaru: apakah di Hong Kong, Telegram telah bisa diakses atau belum. Namun, di akun Twitter-nya, Telegram menyatakan, kondisinya mulai stabil.
Di Asia, dampak yang paling terasa adalah di Hong Kong. Pemadaman itu bersamaan ribuan pengunjuk rasa yang turun ke jalan-jalan kota itu ricuh pada Rabu (12/6/2019). Mereka menentang RUU Ekstradisi.
Kebetulan, para pengunjuk rasa tersebut memanfaatkan pesan terenkripsi, Telegram, sebagai saluran komunikasi satu sama lain di lapangan. Telegram dipakai untuk berkoordinasi, misalnya, tentang informasi air minum atau masker. The Next Web menulis Telegram tak bisa diakses selama sekitar satu jam.
Selain Telegram, The Strait Times melaporkan, aplikasi lain yang dipakai adalah Firechat – aplikasi yang terenkripsi yang bisa bekerja dengan atau tanpa akses internet. Ini aplikasi paling atas di App Store Hongkong.
TNW membuat catatan: jika tudingan Pavel Durov tersebut benar menganai alamat IP, hal itu semakin menguatkan RUU Ekstradisi, yang saat ini ditolak besar-besaran. Yaitu andaikata RUU resmi disahkan, pemerintah China bisa memakainya untuk mengambil alih kendali warga Hong Kong yang mengkritik keras China.
Selama ini Hong Kong hanya menjalin perjanjian ekstradisi dengan 20 negara, termasuk AS dan Inggris, tapi tidak dengan China daratan. RUU yang dibahas parlemen Hong Kong untuk memungkinkan dibuka perjanjian ekstradisi dengan China.
Ini bukan pertama kalinya, Telegram mengalami serangan DDoS. Pada 2015, serangan serupa juga terjadi sehingga melumpuhkan pengguna di Asia Tenggara, Oseania, Australia, dan sebagian India. Setahun sebelumnya, akhir September 2015, Telegram juga diserang besar-besaran DDoS setelah skandal privasi di Korea Selatan seiring penggunaan aplikasi di negara itu naik tajam.
Ada teori konspiratif yang muncul di publik: mengapa serangan itu terjadi ketika sedang memanas di China? Pada Juli 2015, saat itu China juga sedang menghadapi kritikan tajam lantaran menangkap para pengacara yang menyuarakan hak asasi manusia. Ternyata, mereka berkomunikasi satu sama lain dengan Telegram, lapor People’s Daily. Saat itu, Telegram pun diblokir tak bisa diakses di Beijing, Shenzen, Inner Mongolia, Provinsi Heilongjiang, dan Provinsi Yunnan.