Survei Kaspersky: 52 Persen Generasi Tua Gagap Teknologi | BECABUILT

Survei Kaspersky: 52 Persen Generasi Tua Gagap Teknologi

Jakarta, becabuilt.technology – Teknologi telah mengubah cara seseorang dalam menjalani hidup. Kini, interupsi teknologi informasi begitu masih, para milenial lebih cakap dan familiar dengan gawai, sementara orangtua (generasi baby boomer) terpaksa tertatih-tatih beradaptasi.
Tahukah, 35 persen orang-orang usia 55 tahun ke atas mengalami kesulitan dalam menghadapi tantangan teknologi jika itu tidak dibantu oleh anak-anak mereka.
Lalu, 52 persen orang yang berusia 55 tahun ke atas mengaku mereka tidak memiliki pengetahuan tentang teknologi.
Sementara, 41 persen dari mereka akan menelepon anak-anak mereka atau anggota keluarga muda lainnya untuk mendapatkan dukungan penggunaan teknologi informasi secara jarak jauh.
Itulah hasil survei daring yang dilakukan Kaspersky terhadap 11.000 responden dari 13 negara. Responden dikelompokkan sesuai jenis kelamin, usia, dan wilayah. Laporan lengkap ‘Bisakah kamu?’ dapat diakses di sini.

Berita Terkait:

Kisah Lansia di China di Era Revolusi Teknologi

Pertanyaan yang sering muncul dari orangtua adalah

“Bisakah kamu membantu untuk memperbaiki internet?”
”Bisakah kamu memberitahu cara mengunggah ke cloud?”, atau
“Bisakah kamu cek seberapa aman aplikasi perbankan online saya?”

Menyuap yang lebih muda
Dalam survei itu, Kaspersky juga menemukan para orangtua yang tak diperhatikan atau diabaikan oleh anak-anak yang lebih muda.
“Sebesar 18 persen kehilangan dukungan teknis anak-anak mereka, melebihi perusahaan kehilangan mereka (si orang tua) saat mereka tidak di kantor,” tulis Kaspersky dalam siaran pers yang diterima, Kamis (13/6/2019).
Demi memenuhi kebutuhan mereka dalam mendapatkan bantuan teknologi, tulis Kaspersky, sekitar 15 persen dari orang-orang yang berusia 55 ke atas bahkan harus menyuap anggota keluarga yang lebih muda agar mau mengajarinya.
Bagaimana respon anak milenial?
Lebih dari setengah milenial (55 persen) merasa berkewajiban untuk memberikan dukungan teknis sesuai permintaan kerbat lebih tua.
Lalu, 25 persen mereka mengatakan bahwa secara aktif menghindari anggota keluarga yang mereka pikir akan meminta bantuan.
“Tidak semua orang tumbuh dengan teknologi. Oleh karena itu generasi yang lebih tua mungkin merasa tidak nyaman menggunakannya layaknya milenial atau mereka yang ahli dalam teknologi,” kata Alexander Moiseev, Chief Business Officer, Kaspersky.
Ketergantungan yang berlebihan pada kaum milenial untuk menjadi “pahlawan” dalam dukungan teknologi, bahkan mempengaruhi hubungan keluarga, hingga kebiasaan mereka dalam memberikan hadiah.
“Hampir 30 persen dari responden menghindari membeli hadiah berupa teknologi kepada anggota keluarga yang lebih tua, karena tahu bahwa merekalah yang akan diharuskan untuk mengaturnya,” tulis Kaspersky.
Kathleen Saxton, ahli psikoterapis yang bekerja sama dengan Kaspersky, mengatakan, kemajuan dramatis teknologi mulai dari mobil, kantor, dan lingkungan sosial telah menantang semua generasi untuk terus belajar cara memanfaatkannya.
Mereka yang berada di paruh kedua kehidupan, kata Saxton, menemukan perubahan yang luar biasa dan seringkali takut ditipu atau diekspos atau ketakutan akan menjadi target dari perubahan luar biasa.
“Dan, seringkali milenial-lah yang terpaksa datang untuk menyelamatkan. Dipersenjatai dengan pengetahuan, milenial dianggap tidak memiliki masalah berarti dalam teknologi,” tutur Saxton.