Picu Bom Pakai WiFi, Analis: Teroris Selalu Update Teknologi | BECABUILT

Picu Bom Pakai WiFi, Analis: Teroris Selalu Update Teknologi

Jakarta, becabuilt.technology – Analis intelejen dan keamanan Universitas Indonesia (UI), Stanislaus Riyanta, mengatakan teroris selalu melakukan update teknologi untuk melancarkan setiap aksinya.
Sebelumnya pengakuan terduga teroris pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi berinisial EY menyatakan berhasil memodifikasi pemicu bom berteknologi modern dengan menggunakan jaringan WiFi.
“Kan sebelumnya mereka pakai jaringan GSM biasa yang dipicu pakai hape. Nah, pakai WiFi ini lebih mudah melakukan aksi remote supaya tidak mudah di jammed,” kata Stanislaus kepada becabuilt.technology, Sabtu (18/05/2019).
Para teroris, kata dia, sudah sejak lama berencana melakukan peledakan bom menggunakan WiFi. Bahkan semenjak Februari 2019 jaringan teroris ini sudah aktif menyebarkan petunjuk maupun tutorial lewat situs dan jaringan mereka di dunia maya.
“Ada video dan buku tutorialnya pakai bahasa Indonesia. Modelnya agak berubah karena dengan WiFi ini militansinya berkurang, tapi potensi pengeboman makin besar bisa di banyak tempat,” ujarnya.
Jika belajar dari aksi terorisme di wilayah konflik semisal Timur Tengah, Stanislaus menyebut perkembangan di sana jauh lebih advanced seperti peledakan menggunakan kombinasi drone dan WiFi sehingga pelakunya sulit dipantau.
Stanislaus mengingatkan bahwa penggunaan WiFi belum bisa dikatakan sebagai cyberterrorism yang intinya berbicara terorisme di dunia siber. Namun, ia menyebut pintu serangan teror di dunia siber selalu terbuka dan terus berkembang.
“Pasti teroris ini akan mengupdate teknologi karena semakin maju teknologi, maka semakin maju bentuk aksi terornya.”
Sementara itu, sejak tahun lalu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bambang Brodjonegoro, telah mengingatkan potensi ancaman terorisme siber.
Menurut dia perang konvensional yang ditandainya dengan kontak senjata atau nuklir mulai ditinggalkan.
Mantan Menteri Keuangan periode 2014-2016 itu menegaskan bahwa tidak menutup kemungkinan terorisme mulai menjalar ke kejahatan ekonomi seiring semakin canggihnya teknologi.  
“Karena kegiatan seperti hacking atau serangan siber terhadap sistem keuangan juga berdampak teror,” kata Bambang mengingatkan.