Perusahaan AS Bikin Aplikasi Dongkrak Produksi Ternak | BECABUILT

Perusahaan AS Bikin Aplikasi Dongkrak Produksi Ternak

Oregon, becabuilt.technology – Peternak sapi di Amerika Serikat mengembangkan aplikasi yang bisa mengumpulkan informasi dari hewan ternak. Informasi kesehatan, berat badan, penyakit, kesuburan hingga lokasi ternak dikumpulkan untuk dijadikan bahan mengambil keputusan.
Melissa Brandao lewat perusahaannya HerdDogg mengembangkan aplikasi berlabel Smart Ear Tag yang menandai setiap sapi ternak.
Sebuah chip di pasang di badan hewan untuk kemudian mengirim informasi ke pusat data lewat perangkat IoT dan cloud. Teknisnya, konsep ini menggabungkan informasi Artificial Intelegence, Big Data dan Connectivity.
Data informasi ternak bisa di lacak secara realtime. Teknologi yang dikembangkan Brandao telah digunakan para peneliti di dunia seperti fakultas Manajemen Ternak di Central Queensland University atau divisi penelitian Meat & Livestock Australia.
“Teknologi ini bisa meningkatkan pemasukan peternak sapi. Karena mereka bisa mengontrol dan mengelola hewan ternak langsung lewat ponsel,” kata Brandao yang sengaja meninggalkan pekerjaannya di Silicon Valley untuk membantu peternak.
Brandao telah mendapatkan banyak panggilan dari Indonesia, Nairobi, Araub Saudi hingga Israel. Sementara Brasil, Australia dan Norwegia telah merasakan dampak Smart Ear Tag yang digunakan juga pada kambing, domba dan rusa.
Ia berencana memperkenalkan teknologi ini pada KTT Kewirausahaan Global (GES) di Belanda 3-5 Juni 2019 mendatang. Di sana, bersama pemerintah AS, Brandao akan dipertemukan dengan banyak investor dari seluruh dunia.
GES 2019 bertajuk The Future Now fokus pada lima sektor utama yakni pertanian/makanan, konektivitas, energi, kesehatan dan air. Di situ juga dibahas bagaimana memberi makan populasi global yang jumlahnya lebih dari 9 miliar orang pada tahun 2050.
“Big data itu penting bagi masa depan peternakan. Karena kita harus memikirkan bagaimana populasi global yang jumlahnya lebih dari 9 miliar orang di tahun 2050.”