Penggunaan Software Ilegal Bahayakan Kemanan Siber Nasional | BECABUILT

Penggunaan Software Ilegal Bahayakan Kemanan Siber Nasional

Jakarta,becabuilt.technology – BSA | The Software Alliance, konsultan hukum terkemuka untuk industri software global, mengingatkan setiap perusahaan di Indonesia agar tidak menggunakan software ilegal. Pasalnya, penggunaan software ilegal akan membahayakan keamanan siber nasional, yang dapat menyebabkan pembobolan data, kerugian finansial, dan konsekuensi hukum.
“Penggunaan software tanpa izin atau ilegal menunjukan pengambilan keputusan yang buruk serta pengambilan risiko yang tidak penting. Karena mereka dapat dengan mudah kehilangan keunggulan kompetitif mereka jika pembobolan data terjadi,” kata BSA Senior Director Tarun Sawney. 
Menurut Sawney, penggunaan software ilegal memiliki risiko keamanan siber yang mahal. Disebutkan, malware merupakan risiko utama dari penggunaan software tanpa izin, yang dapat digunakan untuk mencuri data personal atau perusahaan, mengawasi aktivitas, merusak fungsi perangkat, atau membajak sistem sumber daya untuk keuntungan pembuat malware.
Tak hanya itu, biaya perbaikan sebuah kasus malware dapat mencapai Rp 145 juta per komputer, dan membutuhkan waktu hingga 50 hari untuk dikerjakan, serta dapat merugikan perusahaan besar sekitar Rp 35 miliar. Faktanya, 60 persen dari perusahaan-perusahaan kecil yang terkena serangan siber dapat merugi hingga menyebabkan kebangkrutan hanya dalam kurun waktu enam bulan.
“Saat ini, lebih dari 80 persen dari software yang digunakan di Indonesia merupakan software tanpa izin, yang membuatnya sangat rentan terhadap kejahatan siber yang juga bisa menghambat pertumbuhan perusahaan,” ujar Sawney.
“Perusahaan besar bisa mengalami kerugian besar, dan perusahaan yang lebih kecil dan startup bisa gulung tikar akibat kerugian yang bisa dialami. Tentu saja, kerugian seperti ini akan sangat merugikan para investor,” kata Sawney.
Selain potensi hacking, kehilangan data, dan downtime perusahaan, lanjut Sawney, software yang terinfeksi dapat membahayakan reputasi perusahaan publik di depan pemegang saham, pegawai dan klien.
“Banyak hackers dan pembuat malware yang memang secara khusus menargetkan kelemahan yang dimiliki software tidak berlisensi,” kata Sawney.