Pahami Beda Akun Diretas dan Dicuri | BECABUILT

Pahami Beda Akun Diretas dan Dicuri

Jakarta, becabuilt.technology – Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, meminta masyarakat tidak salah pengertian dalam menyebut akun media sosial yang diambil alih akibat di retas atau hacking.  
Menurut dia, ada pemahaman yang salah terhadap hacking karena yang bisa diretas itu adalah teknologi atau sistem. Sedangkan pengambilalihan akun oleh pihak lain terjadi karena kesalahan personal akibat tidak hati-hati atau ketidaktahuan.
“Kalau di hack, uji forensik membuktikannya. Nah, kalau akun diambil alih itu kan masalah password diambil pihak lain. Itu sama saja kita ngasi pin ATM ke orang lain. Jadi yang salah siapa,” kata Semuel di Jakarta, Sabtu (27/04/2019). 
Ia mengimbau masyarakat lebih waspada dengan meningkatkan literasi digitalnya. Sekarang ini, kata dia, sudah banyak cara yang bisa ditempuh pelaku kejahatan untuk mencuri password atau nomor identifikasi pribadi (PIN).
Semuel juga memastikan platform media sosial atau jaringan percakapan pribadi tidak pernah meminta password dikirim ke pihak lain atau memasukkan password berkali-kali dengan berbagai alasan semisal update akun. 
“Sekarang sudah banyak cara. Misalnya one time password (OTP) mencurigakan atau kalau suka buka website yang banyak Malware, itu bisa bahaya. Kalau ketemu seperti itu segera laporkan,” ujarnya.
Di dalam konsep security terdapat tiga tingkatan yakni people (orang), technology dan network (jaringan). People, menurut Semuel, paling rentan terkena pengambilalihan akun seperti publik figur yang kerap menjadi pusat perhatian serta punya berbagai kepentingan.
“Technology dan network itu lah yang bisa diretas dan ada pengamanannya. Kalau akun media sosial kita sendiri sebagai pengguna yang mengamankan.”