Mendag: Indonesia Mendukung DFFT Dengan Syarat | BECABUILT

Mendag: Indonesia Mendukung DFFT Dengan Syarat

Jakarta, becabuilt.technology – Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan Indonesia sangat mendukung Data Free Flow with Trust atau DFFT. 
Sikap tersebut ditegaskan Enggartiasto usai menerima Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri (METI) Jepang, Hiroshige Seko di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (29/05/2019).
Konsep DFFT adalah menjaga keseimbangan antara pemanfaatan aliran data bagi ekonomi digital terhadap perlindungan bagi privasi dan keamanan data. Laporan e-Conomy SEA 2018 menyebut potensi ekonomi digital Indonesia mencapai US$100 miliar (Rp 1,4 kuadriliun) pada 2025. 
DFFT akan menjadi salah satu topik pembicaraan dalam Pertemuan Tingkat Menteri Perdagangan dan Ekonomi Digital G20 pada 8-9 Juni 2019 di Tsukuba, Jepang. 
Jepang diketahui telah melobi sejumlah negara terkait DFFT yang di berbagai negara memiliki beragam definisi maupun konsep. Indonesia, kata dia, berhati-hati melihat DFFT sehingga Kementerian Perdagangan berkonsultasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika. 
“Dari konsultasi kami dengan Kementerian Kominfo, pada dasarnya Indonesia dapat menerima (DFFT), tapi dengan beberapa catatan,” kata Enggartiasto dalam keterangan pers yang diterima becabuilt.technology, Kamis (30/05/2019).
Enggar tidak merinci konsep DFFT, tapi ia mengatakan sejauh ini pembahasan dengan Jepang baru terkait prinsip dan kriteria data-data. Secara umum, kata dia, prinsip Indonesia adalah data privacy maupun data strategis harus berada di Indonesia.
“Kami sudah sampaikan Indonesia tidak akan memberi keluar data strategis dan Jepang sepakat. Secara spesifik kami belum tentukan datanya sehingga nanti dalam perkembangannya baru di bahas lebih lanjut.” 

Baca: Zuckerberg Enggan Data Center di Negara yang Hukumnya Lemah

Jepang tengah gencar mengampanyekan konsep Japan Society 5.0 yang diusulkan Perdana Menteri Shinzo Abe. Konsep tersebut menyatakan fokus kehidupan bukan lagi modal, tetapi data-data yang menghubungkan dan menggerakkan segalanya.
Melalui proyek Society 5.0 Jepang menginginkan warga lanjut usia menggunakan teknologi artificial intellegent (AI), Internet of Things (IoT), imachine learning, big data dan sebagainya untuk membantu kehidupan.