Masyarakat Indonesia Masih Awam Cybersecurity | BECABUILT

Masyarakat Indonesia Masih Awam Cybersecurity

Jakarta, becabuilt.technology – Managing Director Finmas, Peter Lydian, mengatakan terdapat perbedaan antara literasi dan edukasi di era digitalisasi. Di dalam konteks cybersecurity, kata dia, literasi dan edukasi memiliki tujuan dan hasil berbeda.
“Karena output dan praktiknya berbeda antara literasi dan edukasi ini,” kata Peter di Jakarta, Kamis (11 Juli 2019).
Ia menekankan bahwa literasi dan edukasi harus sejalan karena urgensinya bagi Indonesia ke depan. Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan tahun 2030 Indonesia butuh sembilan juta talenta profesional di bidang digital.
Tidak mudah mencapai target SDM sebanyak itu. Setidaknya Indonesia harus memproduksi 50 ribu talenta digital perbulan, sementara masyarakat harus mendapat pengetahuan dan pemahaman yang cukup terkait keamanan dan kenyamanan di ruang cyber.
Peter mengatakan untuk meningkatkan talenta profesional bisa dilakukan melakukan jalur edukasi. Apakah edukasi formal melalui jalur akademis seperti di sekolah dan universitas atau jalur non-formal memperbanyak pelatihan dan pengembangan SDM.
“Cybersecurity secara general adalah pertanyaan teknis, sementara literasi adalah bagaimana meningkatkan awareness,” ujar mantan direktur Microsoft dan Dell wilayah Indonesia dan Asia Pasifik tersebut.
Minim Pengetahuan 
Bagaimana menilai literasi security di dalam sebuah masyarakat. Peter mengatakan indikasinya cukup mudah. Ia mengatakan hanya dengan mengajukan pertanyaan sederhana.
Misalnya seberapa aware orang-orang bahwa memberikan data itu tidak boleh sembarangan. Saat mendownload berbagai aplikasi untuk mempermudah kehidupan, tapi meminta berbagai akses data dan informasi.
Lalu ratusan juta pengguna media sosial di Tanah Air apakah sudah mengetahui fitur keamanan bermedia sosial yang baik. Termasuk tata krama di ranah dunia maya tersebut.
“Itu literasi, sehingga kalau orang paham tentu tidak akan banyak yang kejadian seperti kebocoran data atau sejenisnya,” ujar Peter.
Untuk edukasi cybersecurity dan meningkatkan talenta digital, Peter menilai Indonesia harus melakukan usaha yang lebih keras. Indonesia, kata dia, masih dalam tahap pengenalan dan pembelajaran cybersecurity.
Sedangkan kondisi faktual dan aktual Indonesia menyatakan potensi ancaman cyber amat luar biasa ke depan. 
“Menurut saya kita harus merangsang munculnya talenta-talenta cybersecurity ini,” ujarnya.
Minimnya pengetahuan dan informasi tentang manfaat cybersecurity membuat masyarakat cenderung menganggap skill tersebut kurang dihargai.
Padahal fungsinya sangat krusial dan menyangkut hajat hidup orang banyak di era digital.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) selaku koordinator dan kolaborator keamanan cyber nasional sejak lama telah memetakan Infrastruktur Informasi Kritikal Nasional (IIKN).
“Orang harus sadar bahwa cybersecurity harus dihargai dan harganya besar. Ini akan menjadi motivasi yang membuat orang akan belajar. Apakah belajar otodidak atau ikut kursus.”