Kejahatan Kriptokurensi Diprediksi Meningkat pada 2021 | BECABUILT

Kejahatan Kriptokurensi Diprediksi Meningkat pada 2021

Jakarta, becabuilt.technology – Peretasan mata uang digital atau kriptokurensi yang dialami Binance pada Rabu (8/5/2019) dini hari WIB menambah deretan panjang kejahatan kriptokurensi atau cryptocrime.
Seperti dikutip dari Cybersecurity Ventures, yang diakses Kamis (9/5/2019), bahwa peretasan kriptokurensi sepanjang tahun lalu telah menimbulkan kerugian hingga US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,4 triliun di dunia.
Almanak Cybersecurity 2019, yang dirilis awal tahun ini oleh Cisco dan Cybersecurity Ventures, menunjukkan beberapa fakta, angka, prediksi, dan statistik yang mengejutkan tentang ancaman kriptokurensi.

Berita Terkait:

Hacker Bobol Binance, 7.000 Bitcoin Amblas
Tertarik Kriptokurensi? Coba Investasi lewat Platform Ini

Sejumlah poin yang menarik dicermati, di antaranya:

Cybersecurity Ventures memperkirakan pada 2021 lebih dari 70 persen semua transaksi kriptokurensi bakal terlibat dalam aktivitas ilegal.
Diprediksi jumlah perputaran uang dalam aktivitas ilegal itu senilai S$ 76 miliar dan mellibatkan Bitcoin di dalamnya. Riset Universitas Sydney di Australia mengatakan, aktivitas ilegal itu menyangkut obat-obatan terlarang (klik PDF).
Hingga kini peretasan kriptokurensi terbesar yang pernah terjadi dialami oleh Coincheck pada 26 Januari 2018 yaitu senilai US$ 530 juta (58 miliar Yen) dalam bentuk koin NEM dalam dompet panas (hot wallet). Coinhceck adalah layanan penukaran Bitcoin terkemuka di Asia yang didirikan oleh Koichiro Wada dan Yusuke Otsuka dan berkantor pusat di Tokyo, Jepang. Nilai kerugian tersebut melampaui kerugian yang dialami Mt.Gox, penyedia penukaran kriptokurensi asal Jepang yang berpusat di Kyodo, pada 2014 senilai US$ 437 juta.
Cryptojacking adalah penambangan kriptokurensi ilegal. Ransomware adalah senjata favorit yang dipakai oleh penjahat siber. Google bahkan telah menghalangi semua ekstensi yang melibatkan penambangan kriptokurensi di Google Chrome. SIM Swap atau peretasan nomor ponsel juga menjadi ancaman bagi pemegang akun kriptokurensi.
Cryptojacking adalah salah satu ancaman keamanan siber yang tumbuh paling cepat pada 2018.
Laporan dari Cyber Threat Alliance (CTA) menunjukkan peningkatan besar-besaran dalam kasus cryptojacking, yaitu peretas membajak komputer untuk menambang kriptokurensi seperti Bitcoin dan Monero.
Menurut riset Braunschweig University of Technology in Germany, 10 situs penambangan kriptokurensi paling menguntungkan yang teridentifikasi menghasilkan US$119 hingga US$ 340 per hari.