Keanu Reeves Muncul di Cyberpunk 2077, Apa itu Cyberpunk? | BECABUILT

Keanu Reeves Muncul di Cyberpunk 2077, Apa itu Cyberpunk?

Jakarta, becabuilt.technology – Salah satu kejutan terbesar dari acara Electronic Entertainment Expo (E3) Xbox yang digelar di Amerika Serikat, Minggu (9/6/2019), adalah aktor Keanu Reeves, yang baru-baru ini menjadi perbincangan di lewat laganya di film John Wick 3.
Seperti diberitakan BBC, Senin (10/6/2019), Keanu Reeves akan tampil menjadi karakter gim peran Cyberpunk 2077 buatan CD Projekt Red. Cyberpunk 2077 merupakan gim yang menampilkan dunia gelap sebuah kota yang berisi peperangan dan kejahatan. Gim ini dijadwalkan rilis pada 16 April 2020. Saat ini pre-order pun telah dibuka oleh pengembang.
Namun, dalam kesempatan ini, becabuilt.technology tak membahas soal gim tersebut. Bagi pembaca barangkali masih awam dengan istilah cyberpunk. Apakah cyberpunk sama halnya dengan anak-anak punk di dunia nyata?
Istilah cyberpunk, menurut Wikipedia, adalah sebuah subgenre fiksi ilmiah yang menggambarkan keadaan distopia (menakutkan) disertai dengan pemanfaatan teknologi tinggi. Cerita-cerita cyberpunk umumnya berlatar masa depan dan banyak ditemui unsur-unsur film noir (kriminal dan gelap) serta karakter seperti hacker, kecerdasan buatan (AI), dan perusahaan besar.
Dalam kamus daring Merriam-Webster, ada dua arti cyberpunk Arti pertama sebagai fiksi sains yang berkaitan dengan masyarakat urban masa depan yang didominasi oleh teknologi komputer. Kedua, “Seorang hacker komputer yang oportunistik,” tulis Merriam-Webster.
Disertakan pula sinonim dari cyberpunk itu sendiri merujuk atau berdekatan pada cracker dan hacker. Dari segi literatur, tulis Merriam-Webster, kata cyberpunk diciptakan oleh penulis Bruce Bethke yang menulis sebuah cerita dengan judul itu pada 1980.
“Ia menciptakan istilah dengan menggabungkan kata cybernetics, ilmu mengganti fungsi manusia dengan komputerisasi, dan punk, musik parau yang tren di 1970-an hingga 1980-an,” tulis Merriam-Webster.
Namun, istilah cyberpunk semakin dikenal luas sejak munculnya novel Neuromancer karya William Gibson, yang bercerita tentang cyberpunk, setelah diganjar Nebula Award, Philip K. Dick Award, dan Hugo Award.
Ideologi Cyberpunk
Realitas dunia maya kian canggih seperti ini juga tak lain karena gagasan atau ide besar para penciptanya—orang-orang yang memang menggeluti dunia komputer. Kehadiran Facebook dan media sosial lainnya menjadi pelecut semakin masifnya ruang siber (cybspace) kian tak terpisahkan dengan realitas nyata.
Pengembangan dunia siber juga tak terlepas dari ideologi orang-orang yang menggeluti di dalamnya. Mereka tentu saja orang-orang visioner. Maka, di sinilah, kata Astari Hadi, penulis buku Matinya Dunia Cyberspace, perlu mengaitkan realitas dunia siber dengan pemikiran para ideolog atau visioner yang menjadi acuan ideologis penciptaan program komputer.
“Siapakah mereka?” tulis Astari. Mereka adalah cyberpunk.
Astari mengatakan, para penulis cyberpunk era 1980-an memiliki ideologi yang dipengaruhi oleh berbagai gerakan “pengingkaran” era 1960-an.
“Mereka menaruh perhatian besar pada teknologi informasi, di samping adalah para punk dengan segala sifat yang khas: anak-anak muda yang cenderung liar, semangat pemberontakan yang kuat, pakaian dan gaya rambut yang aneh, serta sikap politik yang ganjil,” tulis dia.
Pendek kata, mereka adalah pembuat masalah. Menurut  Astari, mereka bukanlah programmer atau pakar hardware komputer, tapi mereka meletakkan “landasan ideologi” dunia siber, “Lewat tulisan-tulisan fiksi ilmiah yang bersifat visioner. Mereka memiliki pengikut global yang tersebar di berbagai jaringan media,” tulis dia.
Bahkan, tak sedikit yang menilai pandangan hidup sebagai orang “sakit” dan “gelap” –sebuah gambaran pandangan hidup generasi subkultur 1960-an pada umumnya. Para “ideolog” atau “visioner” itu, kata Astari, seperti Rudy Rucker, John Shirley, dan Bruce Sterling.
Dalam bukunya Hantu-hantu Politik dan Matinya Sosial, Profesor ITB Yasraf Amir Piliang, juga menuliskan bahwa penulis-penulis cyberpunk suka dengan tema-tema kebebasan informasi, ketidakpercayaan terhadap otoritas, pengingkaran terhadap segala bentuk kekuasaan, desentralisasi, kehidupan do it yourself, kebebasan penjelajahan melampaui tapal batas (terlarang).
“Mereka sangat terpesona oleh konsep ketidakpastian dan ketidakstabilan. Mereka lalu gandrung membongkar setiap kemapanan, setiap otoritas, setiap kekuasaan (absolut), dan setiap konvensi dan kode sosial,” tulis Yasraf.
Di sisi lain, selalu ada yang menjadi lawan kelompok cyberpunk tersebut. Salah satu penulis yang sengit melawan ideologi cyberpunk adalah Mark Slouka. Melalui buku War of the World, ia menyerang apa saja yang dianggapnya sebagai “sarang lebah digital” –sebuah metafora yang menggambarkan masyarakat tertindas oleh “jaringan informasi global” yang seharusnya malah mencerahkan.
Pertanyaan mendasar yang tebersit, jika para “ideolog” atau “visoner” cyberpunk dipakai sebagai landasan ideologi perkembangan teknologi dunia siber: apakah masa depan kita cenderung akan semakin lebih bebas dan anarkistis? Seiring aktivitas medsos saat ini yang begitu liar akan hoaks, ujaran kebencian, dan peretasan?