Jejak Mafiaboy, Hacker Remaja yang Tumbangkan Yahoo dan CNN | BECABUILT

Jejak Mafiaboy, Hacker Remaja yang Tumbangkan Yahoo dan CNN

Jakarta, becabuilt.technology –  Memulai awal pekan kedua Februari 2000, pasar saham Amerika Serikat dibuat geger. Senin siang itu, situs web Yahoo! bermasalah. Orang-orang mengetikkan kata: “yahoo.com“ di web browser dan hasilnya tak bisa diakses. Mati. Akses ke email Yahoo setali tiga uang.  
Sekitar satu jam kemudian Yahoo! kembali pulih. Namun, kabar buruk merembet ke lainnya, situs-situs web besar lain, seperti eBay, E-Trade, Amazon.com, Excite, dan CNN.com juga down. Mereka berhenti dalam beberapa jam. Kegaduhan itu ada yang menyebutkan selama empat jam.
Publik dan pemerintah AS panik. Pelaku bisnis mengaku merugi hingga jutaan dolar. USA Today menulis kerugian yang kemungkinan diakibatkan dari gangguan itu mencapai US$ 1,3 miliar.
Bill Clinton, Presiden AS kala itu, pun harus turun tangan. Ia membawa kasus secara khusus ke Konferensi Tingkat Tinggi Keamanan Siber beberapa hari setelah serangan.
Kejadian pada 7 Februari 2000 itu membuat perubahan pada cara berpikir publik, terutama pengguna internet, menyangkut keamanan online.
Negeri Paman Sam geger hanya karena ulah seorang remaja usia 15 tahun asal Kanada bernama “Mafiaboy”—sebuah nama samaran pelaku di internet. Kelak dia bakal dikenal sebagai hacker paling terkenal dunia. Nama aslinya ialah Michael Calce, kini berusia 34 tahun.
Calce saat itu tak tahu masalah seperti yang sedang dihadapinya, bahkan ia tak paham kelakuannya itu membuat panik pemerintah AS.
“(Apa yang kulakukan) itu menyenangkan, saya melihatnya sebagai sebuah tantangan […] sebuah teka-teki untuk dipecahkan. Tapi, saya benar-benar tidak tahu betapa seriusnya kondisi saat itu,” ujar Calce saat berbicara tentang keamanan siber bersama perusahaan teknologi HP di Australia, 18 tahun kemudian.
“Tetapi, ketika Anda melihat Presiden AS (Bill Clinton) dan Jaksa Agung Janet Reno di TV mengatakan, bahwa mereka akan memburu Anda, Anda barulah menyadari hal itu betapa seriusnya kejadian itu,” ia menceritakan ulang kisahnya itu seperti dikutip dari Herald Sun.
Butuh waktu dua bulan, Kepolisian AS untuk menangkapnya setelah mengerahkan segala kekuatan. Tak tanggung-tanggung, agen Biro Investigasi Federal (FBI) dari Atlanta, Boston, Dallas, Los Angeles, San Antonio, San Fransisco, Seattle, Washington DC, dan beberapa kantor Atase Hukum di luar negeri dikerahkan untuk menyelidiki kasus Mafiaboy.
Dan, pada 25 April 2000, Mafiaboy ditangkap di Montreal, Provinsi Quebec, Kanada atas bantuan kepolisian setempat.
Atas nama hukum Kanada, kepolisian tak menyebutkan nama aslinya saat itu dan menjelaskan bahwa remaja itu telah melanggar sehubungan data. Ia dikenakan dakwaan berdasarkan Undang-Undang Penyalahgunaan Komputer.
Beberapa hari setelah penangkapan, Mafiaboy dibebaskan dengan syarat jaminan, yaitu, “Ia tidak boleh menggunakan komputer, kecuali untuk maksud akademis dan di bawah pengawasa seorang guru,” tulis Kompas dalam artikel “Remaja Kanada Didakwa Penyebab Serangan Internet” (Kamis, 20 April 2000).
Selain itu, “Ia juga dilarang berhubungan dengan internet atau mendatangi toko yang menjual komputer atau perlengkapan komputer.”
Setahun hampir berlalu sejak penangkapan itu, tapi jaksa penuntut umum tak juga membawa kasus itu ke persidangan—kondisi ini sempat mengundang banyak kritik mengapa begitu lama?
Berbulan-bulan menunggu, akhirnya pada 18 Januari 2001, Mafiaboy muncul pertama kali di Pengadilan Pemuda Montreal di Kanada. Mafiaboy mendapat ancaman, menurut laporan USA Today, bisa dua tahun penjara di pusat kepemudaan, denda US$ 1.000, hingga 240 jam layanan masyarakat.
Setelah menjalani delapan bulan persidangan, Mafiaboy pun siap menghadapi putusan. Sehari setelah dunia gempar karena ambruknya menara kembar World Trade Center (WTC), Mafiaboy yang lebih dulu mengguncangkan bisnis AS tahun sebelumnya menjalani sidang vonis. 
Pengadilan memvonisnya delapan bulan tahanan terbuka, setahun percobaan, membatasi penggunaan internet, dan denda £110 atau sekitar Rp 1,6 juta (kurs poundsterling saat itu Rp 14.299)—vonis tersebut jauh dari ancaman sebelumnya. Ia mengakui 56 dakwaan dari 64 tuduhan yang dibuat jaksa.
“Kami pikir ini putusan yang masuk akal. Putusan ini pesan keras kepada para peretas bahwa mereka akan ditangkap jika melakukan hal serupa,” ujar jaksa penutut umum seperti dikutip dari Register.co.uk.