Ini Barang yang Dibeli Warganet Saat Belanja Daring | BECABUILT

Ini Barang yang Dibeli Warganet Saat Belanja Daring

 Jakarta, becabuilt.technology – Perilaku belanja daring menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia seiring kemunculan pasar daring (marketplace) seperti Shopee, Lazada, Tokopedia, Bukalapak, dan lain-lain.
Lalu, seberapa sering warganet melakukan belanja daring dalam sebulan?
Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) 2018, yang dirilis di Jakarta, Rabu (15/5/2019) malam, dari 171,17 juta jiwa warganet Indonesia, hanya 7,69 persen yang melakukan belanja daring dalam sebulan.
Sementara, mereka yang tidak pernah bertransaksi online dalam sebulan berjumlah 56 persen, belum tentu ada transaksi (24 persen), dan tidak tahu (3,4 persen).
Untuk kategori barang yang dibeli, warganet paling banyak membeli sandang atau pakaian dengan sebanyak 14,6 persen, buku (empat persen), aksesori (tiga persen), tas (2,9 persen), elektronik (tiga persen), sepatu (2,2 persen), makeup (1,5 persen), dan pangan (sandal 1 persen).
Lalu, mesin jahit/sparepart/tiket masing-masing 0,9 persen, jaket (0,6 persen), jilbab (0,5 persen), perlengkapan bayi/rumah tangga (masing-masing 0,4 persen), handuk/aksesori HP/kendaraan (masing-masing 0,3 persen), tupperware (0,2 persen), mainan anak/alat pertanian/alat olahraga/kucing/ (masing-masing 0,1 persen).
Berdasarkan pasar daring atau jasa online, Shopee menjadi pilihan tertinggi warganet dengan 11,2 persen, Bukalapak (8,4 persen), Lazada (6,7 persen), Tokopedia (4,3 persen), Traveloka (2,3 persen), OLX (0,6 persen), Go-Jek (0,5 persen), Gramedia/Amazon/Blibli/Alibaba (masing-masing 0,1 persen).
Di sisi lain, warganet yang tidak pernah belanja daring karena sejumlah alasan, yaitu lebih suka belanja langsung karena barang langsung dapat (18,8 persen), belum bisa menggunakan aplikasi (12,2 persen), khawatir baran tak sampai (9,5 persen), dan rumit karena harus transfer (9,0 persen).
Survei yang dilakukan antara 9 Maret hingga 14 April 2019 tersebut menggunakan jumlah sampel sebanyak 5.900 orang dengan margin of error sekitar 1,28 persen. Menggunakan teknik probability sampling dan multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara melalui kuesioner.