Ini Alasan Polisi Sulit Selidiki Kejahatan Siber | BECABUILT

Ini Alasan Polisi Sulit Selidiki Kejahatan Siber

Jakarta, becabuilt.technology – Kepolisian mengakui salah satu penyebab sulitnya menyelesaikan kasus laporan kejahatan siber adalah karena korps baju coklat tidak memiliki kerja sama dengan perusahaan penyedia platform.
Ajun Komisaris Besar Purnomo Hadi Suseno, Kepala Unit III Direktorat Tindak Pidanan Siber Bareskrim Polri, mengatakan kepada becabuilt.technology tanpa kerja sama resmi dengan pihak penyedia platform, polisi sulit melakukan penyelidikan atas laporan kejahatan siber dari akun anonymous di media sosial.
“Sulit, karena semua akun itu kan tidak semuanya riill,” ujar Hadi ketika dihubungi Senin (29/4/2019).
Akun anonymous merupakan akun dengan identitask pemilik yang disamarkan atau identitas palsu. Akun-akun seperti ini banyak muncul di media sosial, seperti Twitter, Instagram, maupun Facebook. Biasanya akun-akun seperti ini yang menyebarkan konten hoaks atau pornografi.
Apalagi, kata dia, selama proses penyelidikan, sering terjadi akun tersebut telah diblokir atau ditutup oleh platform itu sendiri. Dengan begitu, “Kami sulit juga untuk mencari jejak pelaku,” ujarnya.
Data Bareskrim Polri menyebutkan, selama 2018 terdapat 4.487 laporan kejahatan siber, tapi hanya sekitar 2.000-an kasus atau separuhnya yang berhasil diselesaikan.
Hadi mengatakan kebanyakan akun yang berkaitan dengan konten hoaks adalah akun anonymous dan akun palsu.
Penyedia Platform Hanya Peduli Kasus Pedofil, Terorisme
Menurutnya, perusahaan penyedia platform agak sulit dimintai kerja sama, kecuali untuk masalah yang sangat krusial seperti kasus pedofil atau terorisme.
“Mereka kan punya prioritas, mana yang penting dan mana juga yang tidak. Kalau hanya untuk masalah privat atau masalah hoaks yang biasa-biasa saja, mereka agak sulit kerja sama. Tapi, untuk masalah pedofil atau terorisme yang menyangkut keamanan masyarakat pasti mereka akan bantu,” ujar Hadi.
Kejahatan siber, menurut perwira senior polisi ini, memiliki beberapa karakteristik, yakni borderless atau tidak mengenal tapal batas teritorial karena berada di dunia maya, pelaku sering menggunakan akun anonymous, dan terorganisasi dengan baik.