Generasi Milenial China Incar Properti Asia Tenggara | BECABUILT

Generasi Milenial China Incar Properti Asia Tenggara

Shanghai, becabuilt.technology – Aset properti yang dijual online di wilayah Asia Tenggara menjadi incaran kaum milenial asal China. Situs properti terbesar di China, Uoolu.com melaporkan terjadi lonjakan transaksi sebesar 60 persen selama tahun 2018 yakni 5 miliar yuan ($ 740 juta).
Tahun 2019 jumlah transaksi itu diperkirakan melonjak dua kali lipat karena kebanyakan generasi milenial China berpikir tentang investasi dan menumpuk aset. Selain itu, harga properti di Asia Tenggara jauh lebih murah ketimbang di Beijing atau Shanghai.
“Permintaan sangat tinggi di kalangan kelas menengah yang memiliki kelebihan uang untuk investasi,” kata Liu Yuan, kepala peneliti di broker properti Centaline Group yang berbasis di Shanghai seperti dilansir Bloomberg, Sabtu (9/3).
Generasi milenial China paham dan gila teknologi. Mereka menyisir penjualan properti online mulai dari Thailand, Indonesia dan Filipina.
Mereka juga berpikir bagaimana bisa mendapatkan aset di Selandia Baru, Australia hingga Kanada atau Singapura.
“Proses pembelian jauh lebih sederhana lewat platform online. Anda hanya tinggal klik dan mencari saja,” ujar Liu Yuan.
Ice Chen (36 tahun), seorang manajer bank di Beijing, baru-baru ini berkunjung ke Bangkok untuk menuntaskan pembelian dua apartemen.
Ia menjual apartemennya di Beijing untuk mendapatkan sepasang kamar apartemen mewah di Ibu Kota Thailand tersebut.
“Di Bangkok harganya jauh lebih rendah, iklimnya bagus, cocok untuk masa pensiun dan mudah disewakan,” ujar Chen.
Survei Uoolu.com terhadap 2 ribu responden milenial China menyatakan lebih dari 60 persen pembeli properti berusia di bawah 40 tahun. Sebanyak 68,8 persen menyebut tujuan pembelian untuk investasi atau mengumpulkan aset.
Chen mengatakan dirinya lebih memilih menggunakan transaksi online yang terus tumbuh. Sementara agen properti tradisional masih mendominasi dan banyak orang tidak akan pernah berpikir untuk membeli properti tanpa mengunjungi atau melihat secara langsung.
“Setelah ini saya mungkin ke Kamboja atau Indonesia,” ujarnya.