Duta Damai Dunia Maya, Literasi BNPT Untuk Generasi Muda | BECABUILT

Duta Damai Dunia Maya, Literasi BNPT Untuk Generasi Muda

Jakarta, becabuilt.technology – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) telah mengaktifkan 780 orang Duta Damai Dunia Maya di 13 provinsi. Mereka bertugas mengisi internet dan ruang siber nasional dengan konten positif dan konstruktif bagi Tanah Air.
Ke-13 provinsi tersebut adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, seluruh provinsi di Pulau Jawa, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan hingga Nusa Tenggara Barat. 
Duta Damai terdiri dari anak muda berusia 20 tahun sampai 30 tahun. Kepala Subdirektorat Kontrapropaganda BNPT Kolonel TNI, Sudjatmiko, mengatakan anak muda merupakan pondasi masa depan Indonesia yang harus di jaga pemikiran dan ideologinya. 
Duta Damai Dunia Maya, kata dia, telah dibekali keahlian dan pemahaman etika. Mulai dari skill desain komunikasi visual, blogger, videografi, kemampuan narasi hingga kemampuan teknis di bidang IT.
“Jadi apapun yang disebar kelompok radikal, maka tugas duta ini untuk menyebarkan konten perdamaian,” kata Sudjatmiko usai diskusi di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Selasa (28/05/2019). 
Duta Damai merupakan salah satu bentuk soft power yang ditempuh BNPT dalam melakukan literasi dan pendidikan kepada generasi muda agar tidak mudah terpapar paham radikal.  
Perkembangan internet dan IT membuat sel-sel teroris bertumbuh terutama doktrin via internet. Sujatmiko mengatakan sudah banyak kasus terorisme di Tanah Air yang berangkat dari doktrin online dan kebanyakan korbannya anak muda.  
BNPT juga mengembangkan konsep Duta Damai hingga ke Asia Tenggara. April 2019 BNPT menjalin kerja sama dengan sejumlah negara seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Kamboja, Vietnam, Brunei dan Laos.
Sudjatmiko mengatakan konsepnya berbeda dengan Duta Damai Dunia Maya milik Indonesia karena setiap negara menghadapi problem radikalisasi yang berbeda. Misalnya Burma (Myanmar) yang persoalan radikalisasinya tidak sama dengan yang dihadapi Indonesia.
“Kalau untuk Asia Tenggara konsepnya adalah bagaimana kita menyebarkan konten persahabatan dan perdamaian,” ujarnya.