Dibutuhkan 9 Juta Talenta Cyber di 2030, Indonesia Sanggup? | BECABUILT

Dibutuhkan 9 Juta Talenta Cyber di 2030, Indonesia Sanggup?

Jakarta, becabuilt.technology – Indonesia membutuhkan sebanyak 9 juta sumber daya manusia (SDM) digital di tahun 2030. Jika dihitung rata-rata, setidaknya Indonesia harus mampu menghadirkan 600 ribu talenta digital pertahun atau 50 ribu talenta perbulan.
Itu bukan pekerjaan mudah bagi Indonesia yang pada tahun 2020 saja telah memiliki potensi ekonomi digital mencapai Rp 2 000 triliun.
“Mau dicari kemana SDM sebanyak itu? Makanya kita harus persiapan dari sekarang,” kata Staf Ahli Kementerian Kominfo Lis Sutjiati dalam diskusi di Jakarta, Kamis (12 Juli 2019).
Tahun 2030 bertepatan dengan bonus demografi bagi Indonesia. Apa yang akan terjadi jika seandainya Indonesia kekurangan SDM digital di tahun 2030. Lis menyebut Indonesia bisa saja menjadi objek dan pasar di tengah persaingan yang semakin ketat di dunia global.
Kementerian Kominfo telah menyiapkan rencana strategis memproduksi talenta digital menuju 2030. Misalnya membuka 25 ribu beasiswa lewat program Digital Talent Scholarship 2019. Lis mengatakan jumlah itu tidak akan cukup karena masalah SDM cyber dan talenta digital merupakan pekerjaan bersama anak bangsa.
“Kuncinya adalah bagaimana kita berkolaborasi. Kolaborasi itu bukan opsi, tapi keharusan di era digitalisasi karena kita ingin menyelesaikan masalah bersama-sama.”
Yang perlu dibangun menurut Lis adalah kepercayaan diri bahwa Indonesia mampu dan siap menghadapi era digitalisasi. Ia sangat yakin Indonesia mampu karena perkembangan e-commerce Tanah Air sangat luar biasa dalam empat tahun terakhir.
Salah satu indikasi peningkatan jumlah talenta digital terlihat dari kehadiran banyak startup.
“Tahun 2014 siapa yang kenal dengan kata startup, tapi lihat kini, Indonesia sudah punya seribu startup lebih. Mereka hadir menyelesaikan banyak masalah. Dan kalau masalah banyak orang selesai dengan kehadiran startup, maka akan semakin sukses startupnya.”
Out of The Box
Presiden Direktur Finmas, Peter Lydian, mengatakan peningkatan kuantitas talenta digital harus sejalan dengan literasi digital. Untuk melakukan ini, kata dia, Indonesia harus berpikir out of the box. Pendekatan bisa dilakukan melalui jalur akademis dan non akademis.
Kalau jalur akademis menurut Peter agak sulit. Pasalnya, dinamika yang akan terjadi dalam prosesnya cukup rumit. Misalnya mengganti kurikulum dalam pendidikan cyber dan kurikulum digital mungkin akan butuh waktu dua sampai tiga tahun atau bisa lebih lama.
“Oke, kurikulum iya, tapi apakah ada alternatif di luar kurikulum itu. Harus out of the box karena kita berpacu dengan waktu dan teknologi serta di tengah persaingan yang sangat ketat,” kata dia.
Diantara proses tersebut harus ditopang dengan literasi digital yang terus menerus. Ancaman siber dan cybersecurity akan menjadi salah satu isu utama di 2030 nanti.
“Nah, ketika kita sudah punya masyarakat yang melek digital nanti. Artinya masyarakat yang paham dan mengerti dengan digitalisasi, maka akan muncul talenta-talenta luar biasa.”