Di Irlandia Utara, Cyberbullying Menyasar Gadis Remaja | BECABUILT

Di Irlandia Utara, Cyberbullying Menyasar Gadis Remaja

Belfast, becabuilt.technology – Studi terbaru Blurred Lives Prorejct yang didanai Uni Eropa menyatakan anak gadis belia lebih rentan terkena cyberbullying ketimbang anak laki-laki. Studi tersebut mencari tahu bagaimana remaja di usia 14 tahun sampai 16 tahun mengalami dan merespon cyberbullying.
Hasilnya, 22 persen responden mengatakan anak perempuan maupun laki-laki mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan di dunia maya dalam dua bulan terakhir, terhitung Mei-Juni 2019.
Jika dipisahkan antara anak laki-laki dan perempuan, maka cyberbullying semakin terlihat mencolok. Sekitar 27 persen responden anak perempuan mengalami cyberbullying sementara anak laki-laki yang mendapat perlakuan serupa hanya 17 persen.
Beberapa dari responden anak perempuan itu mengaku pernah mendapat perintah bunuh diri atau memotong pergelangan tangan. Tak hanya itu, mereka juga diejek tentang penampilan fisik hingga pernah diminta mengirim gambar telanjang.
Jenis cyberbullying yang paling banyak adalah umpatan dan kata kasar yang diucapkan online. Kemudian menyebarkan desas-desus, mengirimkan teks atau gambar yang memalukan. 
“Termasuk membuatkan profil palsu anak perempuan di media sosial,” tulis laporan studi tersebut.
Smartphone dan Medsos
Sebagian besar anak perempuan yang pernah mengalami cyberbullying mengakui sangat membutuhkan dukungan dari para guru, orang tua dan teman-temannya. Kemudian mereka juga butuh untuk di dekati secara psikologis seperti menawarkan bantuan saat mengalami cyberbullying.
Salah satu penyebab cyberbullying marak adalah karena kepemilikan smartphone dan juga akses terhadap media sosial. Platform yang paling banyak digunakan sebagai jalur cyberbullying ialah Facebook, Snapchat, Youtube, Instagram dan Twitter.
Irlandia Utara pernah dihebohkan bunuh diri yang dilakukan remaja 16 tahun, Elle. Ibunda Elle, Mandy Chism, menuturkan bahwa anaknya mendapat tekanan terus menerus lewat cyberbullying. Itu terjadi setelah ia menghadiahkan sang anak sebuah smartphone.
“Para pembully itu selalu mendorong putri saya untuk melakukan bunuh diri,” kata Mandy Chism.
Elle akhirnya berhasil melukai dirinya sendiri. Dan itu terjadi setelah ia secara konstan mengalami cyberbullying selama lima tahun. Kematian Elle menggoncang keluarga dan teman dekatnya tapi juga berdampak besar terhadap sekolah dan komunitasnya.