Cybersecurity Jadi Prioritas Produsen Mobil di Amerika Serikat | BECABUILT

Cybersecurity Jadi Prioritas Produsen Mobil di Amerika Serikat

Washington DC, becabuilt.technology – Industri otomotif menjadi sasaran empuk para peretas (hacker). Namun, industri otomotif di Amerika Serikat mengatakan, saat ini para produsen telah menitikberatkan keamanan siber (cybersecurity) dalam setiap produksinya.
Sebelumnya, diberitakan bahwa seorang peretas bernama L&M mengaku bisa memantau ribuan mobil, bahkan mematikan mesin mobil dari jarak jauh. Peretas menggunakan celah keamanan pada aplikasi pelacak GPS (Global Positioning System) yang terpasang pada mobil.

Berita Terkait:
L&M, Hacker yang Bisa Mematikan Mesin Mobil dari Jarak Jauh

Menanggapi kejadian itu, kepada Washington Post, Selasa (30/5/2019), Gloria Bergquist, juru bicara Alliance of Automobile Makers, mengatakan, ancaman peretas telah menjadi perhatian produsen mobil secara serius. Alliance of Automobile Makers adalah grup para produsen mobil di AS
Oleh karenanya, kata dia, saat ini para produsen telah fokus untuk melindungi sistem komputer kendaraan dari kemungkinan serangan peretas. “(Sebetulnya) kendaraan saat ini sangat kompleks dengan berbagai lapisan keamanan dan secara desain akses jarak jauh (juga) sangat sulit (dilakukan),” kata Bergquist.
Menurut dia, mobil-mobil baru yang dirilis saat ini memiliki peningkatan utama khusus pada sisi cybersecurity.
“Pembuat mobil telah berkolaborasi dalam semua bidang yang memungkinkan, termasuk perangkat keras, perangkat lunak, dan berbagi pengetahuan dengan penyuplai, pemerintah, dan lembaga riset,” kata Bergquist.
Bergquist juga meminta kepada konsumen juga ikut peduli dalam cybersecurity, termasuk saat memasangkan ponsel pintar pada mobil. Pengguna mobil, kata dia, bisa menghapus data telepon dari mobil sewaan jika ponsel dipasangkan dengan kendaraan sewaan.
“Ada banyak pemain di luar sana yang ingin mengakses data mobil Anda untuk keuntungan mereka sendiri,” kata dia.
Peretasan yang dilakukan L&M memang bermula melalui aplikasi pelacak GPS yang dipakai oleh pengguna. Namun, POST menulis, potensi peretasan tetap terjadi seiring teknologi tinggi yang diadopsi produsen pada mobil-mobilnya. Salah satuhnya, teknologi bantuan pengemudi kelak memungkinan mobil bergerak secara sendiri; Anda tentu masih ingat mobil sedan hitam yang ditunggangi aktor David Hasslehoff dalam serial televisi 1980-an Knight Rider?
Menurut POST, saat ini persoalan yang banyak dialami pengguna mobil di AS terletak pada sistem penguncian pintar (smart key). Sistem smart key ini ada dua fitur yaitu Remote Keyless Entry, yaitu mengunci atau membuka pintu mobil dari jarak jauh tanpa pakai kunci, sedangkan Remote Keyless Ignition yaitu menghidupkan mesin mobil dari jarak jauh tanpa harus masuk ke mobil.
Bahkan, menyangkut persoalan smart key itu, German General Autombile Club (ADAC) menyebutkan, bahwa dari 237 mobil dengan model smart key, 230 di antaranya rentan pencurian. Metode yang paling jamak dilakukan pencuri adalah relay hack, yaitu melibatkan penggunaan pemancar nirkabel untuk memperluas jangkauan smart key elektronik. Teknisnya begini: pencuri memakai pemancar mengarahkan sedekat mungkin dengan sinyal smart key sehingga menipu sensor mobil. Jadi, sensor sinyal smart key tadi lebih dekat dengan mobil. (klik di sini tentang relay hack)
Menanggapi pencurian seperti itu, Asosiasi Otomotif Amerika (AAA) mengatakan, kebanyakan pencuri yang memakai metode relay hack hanya mengambil barang-barang di dalam mobil, bukan mobil itu sendiri. Karena, menurut AAA, jika jangkauan smart key tadi dijauhkan beberapa inci, mesin mobil tidak dapat dihidupkan.
Menurut POST, produsen mobil juga telah meminta para teknisinya untuk menjadikan cybersecurity sebagai hal prioritas. Bahkan, produsen juga telah melakukan simulasi serangan siber untuk menguji sistem keamanannya.
Sebelumnya pada 2015, Fiat Chrysler menarik sedikitnya 1,4 juta mobil lantaran mobilnya bisa dibobol peretas (hacker). Peretas bisa mengambil alih kendali Jeep Cherokee melalui celah pada sistem hiburan yang terkoneksi internet. Dengan celah keamanan itu, peretas bisa mengendalikan mobil dari jarak jauh. (klik di sini)
Sejak itu, pada tahun yang sama, industri otomatif AS mendirikan Pusat Analisis dan Berbagi Informasi yang melibatkan 49 produsen mobil dan pemasok untuk menyusun pedoman tentang cybersecurity.