Cerita Staf Khusus Kominfo Belajar Startup ke Google | BECABUILT

Cerita Staf Khusus Kominfo Belajar Startup ke Google

Jakarta, becabuilt.technology – Staf khusus Kementerian Komunikasi dan Informatika, Lis Sutjiadi, menyebut investasi terbesar Google adalah keragaman. Menurut dia, keragaman itulah yang menjadikan Google eksis sebagai raksasa multinasional hingga bercokol di berbagai negara.
“Google itu menciptakan inovasi setiap hari,” kata Lis kepada becabuilt.technology, Rabu (23/05/2019).
Tahun 2016 Lis jadi bagian dari tim yang dibentuk Kominfo ditugasi belajar mengembangkan startup ke Google dan Silicon Valley. Ketika itu Presiden Joko Widodo memerintahkan Kominfo mempersiapkan segala sesuatu yang menunjang perkembangan startup nasional.
Lis kaget hal pertama yang diungkapkan Google adalah seluruh karyawan mereka berasal dari 130 negara. Google tidak bicara tentang kapital atau besarnya mereka, tapi bagaimana para karyawan menikmati pekerjaan di berbagai bidang yang digeluti.
Perusahaan, kata dia, mampu mempertahankan budaya kerja dengan elemen menyenangkan sehingga orang-orang dari 130 negara tersebut mengeluarkan beragam pikiran terbaiknya terutama dari sisi inovasi. 
Prinsip Google, kata Lis, adalah bagaimana selalu di puncak. Mereka menjaga inovasi yang berasal dari kreativitas. Sedangkan satu-satunya jalan menuju kreativitas dengan menjaga diversity (perbedaan) mulai dari bahasa, cara berpikir sampai cara meminum teh. 
“Nah, masuk akal kan kekuatan karyawan dari 130 negara itu. Berapa banyak budaya dan kebiasaan di situ. Dari perbedaan muncul ide-ide yang yang menjadi kunci digital economy.” 
Lis menyebut inovasi dan kreativitas adalah kunci bagi startup nasional berkembang. Jika kedua hal itu berhenti startup akan mati. Indonesia, kata dia, ibarat lahan digital yang terbentang luas tapi belum digarap maksimal oleh anak bangsa. 
Ia menyebut sejumlah strategic sector startup mulai dari ekonomi kreatif, kelautan dan pertanian, sektor kesehatan hingga agrikultur dan pariwisata. Keragaman Indonesia, kata dia, harus dilihat sebagai modal. Salah jika dipertentangkan atau menjadikannya sumber konflik.
“Kita ingin anak-anak muda yang pegang startup ini agar Indonesia siap dan matang saat mendapati bonus demografi beberapa tahun ke depan.”