Analisis Drone Emprit: Prabowo Lebih Banyak Disebut | BECABUILT

Analisis Drone Emprit: Prabowo Lebih Banyak Disebut

Jakarta, becabuilt.technology – Mesin analisa media sosial Drone Emprit dan Media Kernels Indonesia menyatakan Prabowo Subianto lebih banyak disebut di dalam percakapan media sosial maupun media cyber ketimbang Joko Widodo.
Pertemuan kedua tokoh bangsa terjadi di MRT Jakarta pada Sabtu (13 Juli 2019). Pertemuan rekonsisliasi itu mencuri perhatian khalayak nasional. Drone Emprit menggunakan kata kunci Jokowi dan Prabowo melalui analisis percakapan keduanya di ruang maya.
“Prabowo lebih banyak disoroti terkait pertemuan ini,” kata Founder Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, melalui akun Facebook-nya, Minggu (14 Juli 2019).
Volume percakapan pada hari pertemuan memperlihatkan bahwa fokus publik berada pada Prabowo sebanyak 332 ribu mention (60 persen) dibandingkan Jokowi 249 ribu mention (440 persen). 
Jika dilihat berdasarkan peta Social Network Analysis (SNA), Ismail mengatakan terdapat dua cluster besar yakni dari pendukung petahana Jokowi dan pendukung oposisi Prabowo. 
Biasanya, cluster pro oposisi menampilkan sentimen percakapan yang positif (hijau) tentang Prabowo, dan sebaliknya cluster pro petahana cenderung negatif (merah). Dalam SNA kali ini, warnanya tertukar. Sentimennya terbalik. 
Cluster pro petahana Jokowi sangat positif kepada Prabowo (hijau), sedangkan cluster pro oposisi Prabowo menampilkan ekspresi sentimen negatif (merah). 
“Kedua cluster kini bertukar peran tekait percakapan tentang Prabowo.”
Pendidikan dan Pendewasaan Politik
Ismail menyimpulkan pertemuan Jokowi dan Prabowo telah membuat peta dukungan berubah cukup signifikan. Bagi kubu pro petahana Jokowi, pertemuan ini menjadi legitimasi atas hasil Pilpres 2019 yang diramaikan di media sosial. 
“Dengan ucapan selamat dari Prabowo kepada Jokowi, berakhir sudah kontestasi, mulainya rekonsiliasi, dan saatnya bersama-sama memulai melihat ke depan,” ujarnya. 
Sebaliknya bagi kubu pro oposisi Prabowo, pertemuan ini mengejutkan sekali dan tidak terduga. Banyak yang kecewa dan menyatakan menarik dukungan kepada Prabowo dan melanjutkan perjuangan menjadi oposisi.
Ledekan dan cacian kepada mereka yang kecewa memang tak terhindarkan, seperti yang diperlihatkan oleh beberapa buzzer. Hal ini memperlihatkan bahwa kubu-kubuan sepertinya belum akan hilang. Dan mungkin mustahil hilang.
Menurut Ismail, dinamika media sosial dan media cyber di dalam rekonsiliasi ini telah memberikan pendidikan dan pendewasaan kepada rakyat Indonesia.
“Kita bisa melihat hal yang positif dari situasi ini. Mereka yang memenangkan mayoritas suara rakyat menjalankan pemerintahan. Mereka yang kalah akan menjadi oposisi yang diperlukan dalam demokrasi. Keduanya sama-sama penting.