Alokasi Biaya Cybersecurity Korporasi di Inggris Rendah | BECABUILT

Alokasi Biaya Cybersecurity Korporasi di Inggris Rendah

London, becabuilt.technology – Penelitian yang dilakukan perusahaan asuransi, Hiscox, menemukan, bahwa serangan siber terhadap korporasi di Inggris melonjak.
Sejak Januari hingga awal April 2019, misalnya, serangan siber ke perusahaan di Inggris mencapai 50 persen atau naik dari tahun lalu 40 persen. Mirisnya, sebagian besar dari perusahaan mengaku tidak siap dengan serangan itu.
“Banyak perusahaan secara keliru menyatakan bahwa dirinya tidak berisiko (dari serangan siber),” kata Hiscox seperti dikutip dari BBC, Selasa (23/4/2019).
Hiscox melakukan survei lebih dari 5.400 perusahaan baik skala kecil, menengah, maupun besar di tujuh negara, di antaranya Inggris, Jerman, Amerika Serikat, Prancis, Belgia, Belanda, dan Spanyol.
Secara keseluruhan dari negara yang disurvei, Hiscox mendapatkan terjadi peningkatan tajam dalam jumlah serangan siber sepanjang 2019. Ada lebih dari 60 persen perusahaan melaporkan satu atau lebih serangan; jumlah ini naik dibanding tahun lalu sekitar 45 persen.
“Kerugian rata-rata dari serangan itu juga melonjak dari US$229.000 (Rp3,23 miliar) menjadi US$369.000 (Rp5,19 miliar),” demikian keterangan Hiscox.
Ironisnya, Hiscox menyebutkan, bahwa perusahaan-perusahaan di Inggris ternyata mengalokasikan anggaran keamanan siber terendah di antara negara-negara yang disurvei. “Rata-rata mereka menghabiskan anggaran kurang dari US$900.000 per tahun sedangkan negara lain sekitar US$1,46 juta,” tulis Hiscox.
Kepala Siber Hiscox, Gareth Wharton, mengatakan, rendahnya anggaran keamanan siber di Inggris lantaran sebagian besar usaha masih tergolong kecil.
“Mereka mungkin merasa tidak akan menjadi target (serangan siber) karena cenderung hanya membaca terjadi serangan besar di media massa,” kata Gareth.
Sekadar diketahui, CEO Fortinet Ken Xie di pertemuan World Economic Forum pada Januari 2019 mengatakan, ancaman keamanan siber sebagai ancaman terbesar bagi ekonomi global. Bahkan, menurut dia, kerugian ekonomi secara global dari serangan siber diperkirakan bisa mencapai US$ 3 triliun pada 2020.
Fortinet adalah perusahaan keamanan siber asal Silicon Valey, Amerika Serikat. Besama Accenture dan Sberbank, Fortinet menjadi mitra WEF mendirikan Pusat Keamanan Siber WEF.