Airlangga: Periode ke-2, Ekonomi Digital dan Bonus Demografi | BECABUILT

Airlangga: Periode ke-2, Ekonomi Digital dan Bonus Demografi

Jakarta, becabuilt.technology – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan fokus pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di periode ke-2 pemerintahan Presiden Joko Widodo saat menjadi pembicara di Nikkei Forum, Tokyo, Jepang 31 Mei 2019.
Pembangunan SDM, kata dia, terutama untuk sektor industri merupakan lanjutan dari fokus pemerintahan Jokowi di periode pertama yang menitikberatkan di sektor infrastruktur. Lantas SDM seperti apa yang ingin dibentuk Indonesia ke depan?
Airlangga menyebut Indonesia akan menghadapi bonus demografi yang merupakan keunggulan sekaligus modal besar. Bonus demografi, kata dia, ditandai dengan banyaknya populasi anak muda di angkatan kerja, terdiri dari generasi milenial dan generasi Z.
“Yang siap memimpin di era ekonomi digital,” tegas Airlangga dilansir situs Kementerian Perindustrian.
Pemerintah telah mengambil serangkaian langkah strategis menuju bonus demografi yang berkualitas. Misalnya pendidikan vokasi link and match, pelatihan 3in1 serta pembangunan politeknik di kawasan industri.
“Ini akan memberikan dampak positif bagi investor dari berbagai negara,” ujarnya.
Startup, Unicorn hingga Decacorn
Untuk bisa menjadi yang terdepan di era digital Airlangga mengatakan Indonesia harus memiliki startup yang mampu bersaing. Startup, kata dia, harus berkembang sehingga levelnya bisa ditingkatkan menuju kriteria Unicorn hingga Decacorn.
Unicorn adalah jenis startup yang nilainya sudah mencapai 1 miliar USD. Di Indonesia, unicorn seperti ini termasuk GoJek, Bukalapak, Tokopedia dan Traveloka. Decacorn adalah sebutan untuk startup yang nilainya lebih dari 10 miliar USD.
Hingga Maret 2019 riset Startup Ranking menyebut jumlah startup di Indonesia mencapai 2000. Jumlah itu menempatkan Indonesia di peringkat lima sebagai negara dengan startup terbanyak di dunia.
Indonesia masih kalah jauh dari peringkat pertama Amerika Serikat yang memiliki lebih dari 46 ribu startup. Kemudian diikuti India dengan 6.181 startup, Inggris 4.909 serta Kanada 2.489 startup.
“Target kami cukup tinggi yaitu 150 miliar USD berkontribusi pada perekonomian nasional pada 2025, tapi sejauh ini kontribusinya (startup) baru di angka 10 miliar USD,” kata Airlangga.
Pada kesempatan itu Airlangga sekaligus menyatakan politik dan ekonomi Indonesia stabil usai menjalani Pemilu serentak 2019. Kondisi itu, tegas dia, ideal untuk membangun perekonomian digital yang membutuhkan kenyamanan dan keamanan investornya.
“Politik di Indonesia memang tampak kompleks, namun pemerintah akan segera menempuh upaya mengimplementasikan kebijakan pro-investasi dan pro-bisnis.”