INTERVIEW – Jangan Asal Adopsi, Teknologi 5G Ini Mahal | BECABUILT

INTERVIEW – Jangan Asal Adopsi, Teknologi 5G Ini Mahal

Jakarta, becabuilt.technology – Frekuensi jaringan internet generasi kelima atau 5G digadang-gadang bakal memberikan banyak manfaat bagi sektor industri dan masyarakat. Teknologi ini diklaim mampu menyediakan kapasitas internet yang lebih besar, kecepatan maksimal, serta mampu memberikan efisiensi bagi industri.
Apakah pasar Indonesia sudah siap mengadopsinya? Itulah yang dipertanyakan oleh Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) Kristiono. Menurut dia, sebelum berbicara penerapan teknologi 5G, yang lebih utama disiapkan adalah pasar. “Itu yang paling penting dijawab dulu. Karena tanpa itu, percuma kita mengadopsi teknologi karena ini teknologi mahal,” kata dia.
Tantangan lain yang bakal dihadapi adalah soal spektrum dan konektivitas. Bagaimanapun spektrum penerapan teknologi 5G harus bisa menyesuaikan dengan negara-negara lain. Jangan sampai, kata dia, keunikan yang ada di Indonesia malah menyulitkan untuk berkoneksi dengan negara tetangga.
“Ada harmonisasi antarnegara. Kalau banyak yang pakai frekuensi yang sama, pasti lebih efisien. Karena vendornya pasti banyak. Kalau market-nya gede, pasti lebih murah,” ujar dia.
Ditemui wartawan becabuilt.technology di Jakarta, Kamis (25/4/2019), Kristiono menguraikan tantangan teknologi 5G di Indonesia dan apa saja yang perlu disiapkan. Berikut petikan wawancaranya:
Kapan Indonesia bisa mengimplementasikan teknologi 5G?
Untuk mengimplementasikan 5G yang paling penting adalah mau dipakai untuk apa? 5G harus dipakai untuk menyelesaikan persoalan yang ada di Indonesia. Jadi, jangan sampai 5G dipakai hanya sekadar untuk mengadopsi teknologi baru, tetapi harus memiliki tujuan tertentu. Indonesia punya probabilitas apa? 5G untuk menyelesaikan apa? Itu yang paling penting untuk dijawab dulu. Karena tanpa itu, percuma kita mengadopsi teknologi ini. Karena teknologi ini mahal.
Lantas, bagaimana kegunaan teknologi ini?
Ada dua hal. Pertama, kapasitas. Kapasitas 4G kita belum terlalu cukup. Untuk tempat-tempat tertentu mungkin 4G enggak cukup, itu bisa dikombinasikan dengan 5G. Jadi, dengan frekuensi yang sama, 4G dan 5G itu bisa berbagi. Ada tempat-tempat tertentu yang butuh kapasitas besar sekali, ini bisa dimanfaatkan dengan 5G.
Kedua, jaringan telepon tetap nirkabel (fixed wireless). Dengan kapasitas 5G sangat besar, ini bisa dipakai untuk perumahan atau perkantoran yang membutuhkan. Itu yang paling riil untuk saat ini. Yang lain-lain, saya rasa masih perlu waktu.
Penggunaan di sektor industri, seperti IoT?
Internet of Things (IoT) saat ini masih belum butuh bandwith besar. IoT masih bisa menggunakan teknologi bukan 5G. Misal, di pertanian kan hanya butuh update data lapangan lewat perangkat, itu rata-rata kan sehari sekali, bahkan seminggu sekali. Dan, itu cuma data yang pendek-pendek atau kecil. Jadi, enggak butuh 5G.
Bagaimana operator telekomunikasi melihat teknologi 5G?
Operator masih melihat dari sisi bisnisnya, bagaimana pun ini investasi. Investasi ini juga harus ada revenue. Revenue dari mana? Bisnis modelnya bagaimana? Nah, ini yang saya kira masih menjadi pertanyaan.
Sejauh ini belum ada bisnis modelnya?
Saya rasa belum. Karena kegunaan 5G belum kelihatan. Kalau di luar negeri ada, misal, mobil tanpa awak. Kalau di Indonesia mau gimana? Itu (mobil tanpa awak) bagus untuk dimiliki, tetapi belum dapat diterapkan (applicable).
Teknologinya ada, tetapi enggak ada yang mau pakai. Jadi, harus dihitung, pasarnya siap atau enggak? Kalau pasarnya enggak siap, ya bisnisnya enggak cocok. Jadi, kita masih butuh waktu karena sekarang ini operator masih menguatkan 4G.
Ia menyadari ke depan banyak pengembangan teknologi yang bagus, tetapi apakah itu aplikatif di Indonesia? Jika tidak aplikatif, untuk apa?
Ada operator sudah uji coba, bahkan menargetkan 2020…
Implementasi dari sisi apa? Teknologi? Yang kalau dari teknologi sudah available. Persoalannya, itu layak dari sisi investment enggak? Itu kan tergantung kebutuhan pasar. Pasar mana yang sudah butuh? Karena sejauh ini kebutuhan untuk pasar yang riil itu belum ada.
Di negara lain?
Saya rasa negara lain juga belum intensif banget. Karena itu semua masih imajinasi. Model sudah ada, pasti. Tetapi, kan baru model. Karena kebutuhan pasar paling penting.
Bagaimana kesiapan frekuensinya?
Frekuensi itu aspeknya ada dua. Pertama, seberapa luas spektrum itu dipakai. Kalau kita gunakan spektrum yang unik untuk Indonesia, negara lain gunakan spektrum yang lain, kita akan kesulitan untuk cari vendor karena hanya punya di spektrum tertentu.
Kedua, koneksi dengan negara-negara tentangga. Contohnya, di Indonesia, Sampoerna Telecom dengan frekuensi 450 Mhz, pasti sulit dia. Karena tidak banyak vendor yang suplai teknologi di frekuensi 450 Mhz. Walaupun dia punya keunggulan di frekuensi tersebut, coverage-nya bisa lebih luas, tetapi vendor yang support enggak banyak. Jadi, itu harus di perhitungakan.
Ada harmonisasi antarnegara. Kalau banyak yang pakai frekuensi yang sama, pasti lebih efisien. Karena vendornya pasti banyak. Kalau market-nya gede, pasti lebih murah.
Apakah ada ancaman siber untuk teknologi 5G?
Dari sisi teknologi, itu sudah embedded  [tertanam] aspek security-nya, sudah ada standardisasinya. Tetapi, kemungkinan bisa di-hack juga ada. Bisa dari mana saja. Misalnya, dari operasinya itu bisa saja.
Security akan menjadi penting, jadi harus belapis-lapis. Soal security paling gampang itu password. Jadi, tergantung karyawannya. Security itu pasti menjadi faktor yang paling prioritas.
Security itu bukan hanya faktor teknologi, tetapi bisa faktor orang. Karena orangnya tidak disiplin, yang tidak aware, yang tidak taat terhadap SOP, ya pasti bocor juga.
Redaktur: Andi Nugroho