Blockchain, Teknologi Pencegah 'Kebusukan' | BECABUILT

Blockchain, Teknologi Pencegah ‘Kebusukan’

Jakarta, becabuilt.technology – Raksasa Facebook mengejutkan dunia kala mengumumkan tengah menggarap teknologi blockchain mengembangkan mata uang virtual. Proyek rahasia ini telah berjalan satu tahun sejak pertengahan 2018 dan dikerjakan orang-orang hebat di dunianya.
Facebook menyadari blockchain adalah lompatan luar biasa dalam dunia teknologi. Blockchain efektif memangkas biaya dan waktu, membuktikan informasi yang otentik, melakukan pelacakan dan penelusuran, mencegah terjadinya kecurangan hingga melawan hoaks.
Teknologi blockchain sudah sampai ke Indonesia beberapa tahun lalu. Tahun 2017, ketika mata uang virtual bitcoin meroket, banyak yang menyamakan blockchain dengan bitcoin. Padahal, bitcoin lahir dari teknologi blockchain yang dianggap nyaris tanpa cela. 
Sejumlah negara di dunia juga telah mengembangkan proyek blockchain untuk berbagai kepentingan di semua sektor. Mulai dari kepentingan ekonomi, pertanian, perbankan hingga pertahanan negara seperti dunia militer. 
Persoalan sumber daya manusia diketahui menjadi salah satu kendala dalam pengembangan blockchain. Apa dan bagaimana blockchain beserta implementasinya.
Anggota Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Kolonel Arwin Datumaya Wahyudi Sumari mengatakan Indonesia seharusnya sudah serius menatap pengembangan teknologi blockchain yang dinilai sebagai masa depan bagi umat manusia.
Secara spesifik Kolonel Arwin belum menemukan lembaga atau institusi khusus yang mengembangkan blockchain di Tanah Air, tapi ia percaya Indonesia sebenarnya telah memulai pengembangannya meskipun belum banyak yang mengumumkannya.
Berikut petikan wawancara becabuilt.technology dengan Kolonel Arwin tentang blockchain di kediamannya di Jakarta beberapa waktu lalu:    
Apa itu blockchain?
Blockchain simple-nya adalah chain of blocks atau rantai dari blok-blok. Kalau mau, dianalogikan dari [contoh] yang simple saja. Misalkan kita punya rumah di sebuah kompleks [perumahan]. Dari ujung ke ujung itu sambung-menyambung seperti sebuah rantai. 
Nah, kalau di kompleks itu kita tahu dan kenal tetangga sebelah. Setiap blok/rumah menyimpan informasi yang selanjutnya punya referensi kepada informasi [dari] blok sebelumnya. Jadi, di blok sebelumnya ada sebuah stempel yang dibawa ke blok berikutnya dan setiap stempel berbeda sesuai dengan posisi [blok] yang dibuat.
Katakanlah tetangga paling ujung dianggap sebagai blok pertama yang disebut genesis blok atau sumber dari segala sumber. Nah, blok paling ujung menerima informasi [paling awal] kemudian diberi stempel. 
Stempel itu [berupa] misalnya fingerprint yang setiap orang di dunia ini tidak pernah ada yang sama. Fingerprint ini sebagai petunjuk, indikator, identity sebagai penjaga kerahasiaan data dari blok yang sebelumnya.
Ketika blok itu dikripto, maka datanya tersambung/linked dengan data yang pertama. Supaya data kedua [memiliki identitas dan] merupakan terusan dari data pertama, maka diperlukan stempel sebagai pemberi kode bahwa inilah rangkaian [blok] selanjutnya.
Kemudian blok kedua di bikin lagi fingerprint baru untuk menjaga otentikasi informasi data sebelumnya, maupun informasi dalam rangkaian blok tersebut. Nah, ketika ada yang berupaya menambahkan blok lain yang tidak merujuk pada identitas pada blok sebelumnya, maka blok ini adalah fake atau palsu.
Ini semacam sanad?
Ya, ini dapat dianalogikan semacam perawi dan sanad. Saya coba tarik keluar dulu agar lebih paham. Begini, sanad itu sebenarnya sebuah teknologi. Katakanlah bahwa Allah/Tuhan sudah menciptakan sebuah teknologi [sanad] sejak lama, tapi kita baru pahami sekarang. 
[Dalam ilmu] Sanad, hadis itu kan dirawikan satu persatu dari Rasulullah sampai [ke] perawi-[perawi] berikutnya. Jadi, sebuah hadis itu kita bisa melihat link-nya [kepada] siapa [sebelumnya] dan kemana. 
Siapa perawi terakhir dan siapa perawi sebelumnya. Apakah dia shahih atau tidak. Misalkan ketika di tengah ada perawi yang tidak shahih, maka dianggap sebagai hadis yang tidak sah.
Ini sama persis dengan dengan blockchain itu. Nah, Blockchain itu selalu link-nya ke blok yang sebelumnya. Misalnya kalau kita punya hadits di sini, di tempat ini, maka kita tarik ke belakang apakah nanti [benar] Rasulullah yang menyatakan [hadis] itu.
Catatan: Sanad ialah rantai penutur/rawi (periwayat) hadis
Bagaimana konsep kerahasiaan pesan atau data dari blockchain?
Begini, kita kembali ke blockchain adalah rantai dari blok berisi data yang dilengkapi fingerprint untuk menjaga keontentikan, kerahasiaan dan availability. 
Konsep dari keamanan informasi atau information security dengan kriptografi punya tiga pilar yakni confidentiality, integrity dan
availability (CIA) yang merupakan pondasi apakah itu informasi di komputer, di Internet-of-Things (IoT) atau di kartu.
Confidentiality adalah kerahasiaan, Integrity adalah integritas dari data yang dapat dipertanggungjawabkan serta Availability yaitu data itu memang benar-benar ada ketika diakses. Simple-nya begitu.
Blockchain berhubungan dengan saham?
Saya akan mulai begini. Kenapa disebut criptocurrency adalah karena mata uang yang dikripto. Itu terjadi karena mata uangnya tidak ada secara fisik dan ada di ranah siber, sehingga orang-orang bisa mengambil seenaknya.
Misalnya kita punya [data disimpan di] cloud, maka kita bisa mengambil [data] di cloud [milik] orang lain karena cloud ini sifatnya open. Kita bisa akses [data] punya orang. Sama dengan mata uang yang dipertukarkan di dunia siber. 
Siapapun ketika punya akses, maka dia bisa mengubah [data] sehingga harus dikripto supaya data [dari] currency itu terlindungi.
Lagipula kalau misalnya uangnya ada secara fisik untuk apa dikripto? Karena pecahan 100 ribu, ya 100 ribu saja, warnanya merah kan. Nah, kripto itu untuk menjaga [agar] mata uang di [ranah] siber itu agar [nilai] uangnya [benar] adanya. 
Contohnya berapa nilai uang ketika ditukar ke rupiah. Kalau misalnya bisa diakses seenaknya maka bisa [menimbulkan] kerugian, padahal seharusnya [memberi] keuntungan, sehingga menjaga informasi konten di dalam currency [perlu] dikripto. 
Ibaratnya kripto atau sandi hanya diketahui beberapa orang saja [yang terlibat].
Apa sih guna Blockchain untuk masa depan?
Blockchain intinya adalah menjamin kerahasiaan informasi yang dibuat secara time series atau dibuat berdasarkan kebutuhan [atas] informasinya.
Blockchain dibutuhkan ketika kita menginginkan informasi tidak boleh hilang atau diganti. Kalau kita ingin informasi itu diganti, maka tidak usah pakai Blockchain karena lewat Blockchain kita bisa tahu kapan dibuat, dimana dibuat, siapa yang membuat dan bagaimana membuatnya.
Bisa untuk jurnalisme juga dong?
Saya sudah beri contoh soal beberapa arsip tentang seberapa otentiknya sejarah kita dulu. Blockchain itu bagus untuk membuktikan keaslian atau orisinalitas [data]. [Untuk] meyakinkan bahwa sesuatu [data] itu original, misalnya Supersemar kan kita tidak pernah tahu sejarahnya [yang sebenarnya pada saat itu]. 
Selama ini soal Supersemar kita hanya [dari] membaca buku, menonton TV, dan kita tidak tahu bagaimana [kejadiannya], sehingga yang ditakutkan tinggal fitnahnya [saja] kan. Maka informasi itu [harus] diberi fingerprint sehingga jelas asal muasalnya sebagaimana konsep blockchain.
Kalau untuk melawan hoaks?
Teknologi tidak ada yang mahal dan kebanyakan teknologi sekarang open source kecuali yang sifatnya hak cipta atau hak paten itu sulit. Blockchain bisa digunakan untuk melawan hoaks karena kita punya sumber informasi [aslinya].
Katakanlah tentang siapa yang menjadi sumber informasi [pertama]. Misalnya dulu ada perbedaan data impor pangan dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Bulog. 
Nah, dari persoalan itu kita bisa cari genesis [informasi]nya [ada] dimana, di-fingerprint dimana, kemudian Kementerian mana yang melakukan fingerprint [pada genesis] itu. Kita bisa tahu kebijakan awalnya apa atau [informasi] Genesis ini bicara apa [sebenarnya]. 
Belum banyak yang memakai Blockchain ini karena kebanyakan orang paham [bahwa] konsepnya [hanya] untuk mata uang. Persepsinya begitu, seperti perdagangan di dunia siber. Padahal fungsinya bisa untuk banyak aspek. 
Blockchain itu bisa digunakan melihat track record dari calon presiden, DPR, DPD, Pemilu dan lain-lain. Misalnya genesis [informasi]nya dari Dukcapil [Kemendagri]. Nah, setelah itu bisa ditarik, misalnya seorang [calon] yang [pernah] kuliah [maka] datanya bisa ditarik dari [basis data] Kemenristekdikti. 
Kalau misalnya dia masuk [kelompok] profesi, maka bisa ditarik datanya dari [basis data] misal profesi perbankan dari bank atau profesi lainnya dari lembaga-lembaga terkait. 
Datanya kan sudah ada dan terotentikasi dari data Genesis yaitu Dukcapil sehingga riwayat hidup [setiap calon] bisa dilihat dari [informasi yang disimpan dalam] blockchain ini.
Apakah ada sektor pemerintah menggunakan blockchain ini? 
Saya belum tahu, tapi di negara kita terdapat sekitar 80 lembaga dan institusi dan saya belum melihat secara langsung siapa yang [telah] menggunakan blockchain. Bahkan di TNI pun belum.
Mungkin saja sudah ada yang menggunakan, tapi belum mendeklarasikan. Mungkin saja Kemenkominfo [sudah menggunakan] namun mungkin belum di-declare.
Saya belum melihat di luar negeri [yang] menggunakan Blockchain, tapi itu karena mungkin karena saya belum ke instansi-instansi yang menggunakannya. 
Ya itu tadi kebanyakan [aplikasi] Blockchain ini main-nya di [dunia] finance atau keuangan [terutama] dikaitkan dengan bitcoin. Namun, pada dasarnya semua bidang bisa pakai [teknologi] Blockchain.
Pada prinsipnya semua bidang [pekerjaan] membutuhkan data yang [sifatnya] berurutan atau historical. 
Setiap kelompok data menyimpan data yang terhubung dengan data lain. Sama halnya dengan arsip di semua bidang [pekerjaan] mulai bidang teknis hingga manajemen dan setiap kelompok bidang memiliki data yang [bersifat] historical.
Misalnya arsip tahun ini dihubungkan dengan [arsip] tahun lain. Nah disitulah Blockchain [prospektif untuk] diaplikasikan karena ketika ada something wrong atau [terdapat] data yang hilang, itu pasti [dengan mudah] ketahuan. 
Artinya, blockchain mencegah kebusukan [administrasi] dan fingerprint itu identitas paling otentik [untuk membuktikan keotentikan data].