Hati-Hati Bermain Kuis di Facebook Bisa Kena Retas | BECABUILT

Hati-Hati Bermain Kuis di Facebook Bisa Kena Retas

Jakarta, becabuilt.technology – Mulai sekarang berhati-hatilah ketika mengakses kuis atau survei daring (online) di Facebook atau media sosial lain.
Ternyata, kuis atau survei daring itu bisa dipakai peretas (hacker) untuk mengakses data pribadi pengguna. Inilah yang dilakukan dua peretas asal Ukraina, Andrey Gorbachov dan Gleb Sluchevsky.
Mereka mengambil data informasi pribadi pengguna melalui kuis-kuis daring yang dibuat di Facebook, seperti “Do you hace royal blood?”, “You ary yin. Who is your yang?”, “What does your eye coler say about you?”, dan “What kind of dog are you according to your zodiac sign?”
Setelah terkoneksi Facebook dan akun media sosial lain, pengguna diminta untuk menginstal apa yang dimunculkan di Facebook sebagai “ekstensi peramban jahat”.
Peretas menargetkan para pengguna Facebook berbahasa Rusia dan Ukraina. Gorbachov dan Sluchevsky bekerja di perusahaan Web Sun Group. Namun, perusahaan belum memberikan komentar terkait peretasan tersebut.
“Peretas diduga bisa mengendalikan peramban (browser) internet pengguna yang mengarahkan ke informasi pribadi pengguna Facebook,” demikian tulis CNN, Minggu (10/3/2019).
Mengetahui hal itu, Facebook pun mengajukan gugatan terhadap dua peretas tersebut pada Jumat (8/3/2019). Facebook menuding keduanya telah melakukan peretasan antara 2017 hingga 2018. Dalam operasional, keduanya menggunakan aplikasi web seperti “Supertest” dan “FQuiz”. Keduanya mengklaim telah memiliki informasi dari 120 juta akun Facebook.
Facebook menyesalkan peretasan tersebut karena hal itu menyebabkan reputasi perusahaan buruk di mata pengguna dan dikait-kaitkan dalam “skandal penjualan data pribadi” tahun lalu. Pada 2 November 2018, BBC melaporkan adanya 81 ribu akun Facebook yang diretas dan diperjualbelikan.
Facebook menuduh kedua peretas melanggar Undang-Undang Penipuan dan Penyalahgunaan Komputer dengan mengakses data Facebook tanpa otorisasi dan penipuan. Facebook diduga menghabiskan lebih dari US$ 75.000 untuk menyelidiki pelanggaran tersebut.