Rusia, China dan AS Dalami Blockchain untuk Pertahanan | BECABUILT

Rusia, China dan AS Dalami Blockchain untuk Pertahanan

Jakarta, becabuilt.technology – Tiga negara raksasa tengah mendalami teknologi blockchain untuk bidang pertahanan. Rusia, China, dan Amerika Serikat (AS) fokus mempelajari teknologi yang dipandang sangat bermanfaat untuk maintenance sparepart, logistik dan supply chain, serta cyber technology di lingkungan militer.
Sebagai salah satu International Commitee Member dari International Conference on Cyber Warfare and Security (ICCWS), Kolonel Arwin Datumaya Wahyudi Sumari mengatakan, salah satu manfaat sangat penting dari penggunaan teknologi blockchain untuk militer adalah menjamin perintah dari komando atas diterima secara valid oleh komando bawah.
“Rusia dan China memakai blockchain untuk cyberspace operations, sedangkan Amerika Serikat memanfaatkannya untuk maintenance peralatan militer. Teknisnya seperti apa? Saya sedang mendalami,” kata Kolonel Arwin kepada becabuilt.technology beberapa waktu lalu.
Dalam dunia militer, perintah atau komando dari atas harus sama hingga ke bawah. Dalam banyak kasus, kata dia, ada yang namanya the man on the middle attack yang bisa menyadap atau mengambil informasi kemudian mengubah isinya sehingga perintah atau komando yang diterima berbeda.
Kolonel Arwin mengatakan, di dalam perintah komando secara lisan yang sering tidak memiliki saksi, maka dimungkinkan penggunaan blockchain untuk menjamin konsistensi perintah dan sejauh ini teknologi blockchain belum memiliki cela.
“Blockchain itu dari awal telah dilengkapi dengan fingerprint, anda tahu sidik jari orang di dunia ini tidak ada yang sama. Nah, kalau misalnya [data] diubah, maka sudah ada fingerprint sebelumnya sebagai proteksi yang tidak akan bisa ditiru siapapun,” ujar salah satu penggagas Indonesia Artificial Intelejen Society (IAIS) itu.
Menangkal Hoaks
Kolonel Arwin mengingatkan pentingnya pengembangan teknologi blockchain untuk melawan hoaks. Menurut dia, upaya pemelintiran informasi bisa ditangkal lewat blockchain yang menjamin kerahasiaan dan keaslian sebuah informasi.
Misalkan terdapat perbedaan data antara dua lembaga atau instansi dalam pengambilan keputusan. Blockchain, kata dia, bisa menentukan darimana dan bagaimana informasi yang paling awal dan valid itu berasal. Informasi paling awal dan paling valid disebut genesis. 
“Misal, kalau ada perbedaan data pangan dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan dan Bulog yang mendasari kebijakan impor. Nah, kita bisa cari tahu genesisnya dimana,” kata anggota Indonesia Cyber Security Forum (ICSF).
Lebih jauh Kolonel Arwin menyebut banyak manfaat yang bisa diambil dari penggunaan blockchain. Indonesia, kata dia, bisa menatap blockchain sebagai sebuah solusi cerdas masa depan karena semua bidang bisa menggunakannya. 
Terlebih Indonesia memiliki banyak talenta digital yang belum terakomodasi.
“Semua sektor memerlukan teknologi seperti Blockchain seperti sektor ekonomi, transportasi dan sebagainya. Ini masalah mindset saja karena faktanya potensi kita amat besar.”