Smart Farming di Indonesia Timur Terkendala Blankspot | BECABUILT

Smart Farming di Indonesia Timur Terkendala Blankspot

Jakarta, becabuilt.technology – Saat ini pemerintah tengah menggalakkan program Smart Farming, khususnya di desa tertinggal. Sayangnya, masih banyak desa tertinggal yang belum bisa menerapkannya karena keterbatasan infrastruktur.
Dirjen Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Desa dan PDT Samsul WIdodo, mengatakan, daerah Indonesia Timur bisa dikatakan tertinggal dalam hal penempatan Smart Farming. Ini berbeda dengan desa-desa pertanian di daerah Jawa dan Sumatra yang lebih maju di bidang pertanian.
“Indonesia Timur masih tertinggal untuk menerapkan Smart Farming, karena memang belum banyak digital native di sana. Dan, itu yang harus kami buat mereka mau belajar soal penggunaan teknologi itu supaya mereka bisa mengefektifkan produksi,” ujar dia kepada becabuilt.technology, Minggu (18 Agustus 2019).
Selain masalah digital native, persoalan lain adalah konektivitas dengan internet. Widodo mengatakan, telah meminta kepada seluruh pemerintah daerah untuk melaporkan kepadanya jika di daerahnya masih ada tempat yang blankspot  atau belum ada internetnya.
Dengan begitu, kata dia, kementerian bisa memprioritas untuk meminta langsung kepada Kementerian Kominfo untuk membangun base transceiver station (BTS) di daerah yang mengalami blankspot.
Untuk masalah digital native, menurut Widodo, hal itu menjadi masalah yang cukup krusial. Kebanyakan petani di Indonesia sudah berusia tua, sehingga akan cukup sulit untuk mengajarkan mereka untuk menggunakan teknologi yang sudah disiapkan.
Menurut Widodo, saat ini semua sistem sudah tersedia, tinggal mendorong pemerintah daerah untuk mengedukasi para generasi muda di kalangan petani; tak hanya memberikan ilmu, tapi juga praktik secara langsung.
“Mulai dari produksi, panen, pengemasan, sampai pemasaran melalui platform digital,” kata dia.
“Mereka melakukan gimana caranya motret produk, untuk pemasaran murah. Jadi, kita langsung praktik. Memang tantangannya cukup berat, ya kadang ada yang merasa punya potensi, tapi tidak mau naik kelas,” kata dia.
Ia berharap untuk ke depan semakin banyak desa yang bisa menerapkan Smart Farming. Ia juga mengharapka ada institusi lain yang mau bekerja sama memberikan litersi digital di desa tertinggal. “Kita buat mereka mau belajar soal penggunaan teknologi itu supaya mereka bisa mengefektifkan pangan,” kata dia.
Redaktur: Andi Nugroho