Para Pelaku UMKM Butuh Literasi Cybersecurity | BECABUILT

Para Pelaku UMKM Butuh Literasi Cybersecurity

Jakarta, becabuilt.technology – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ternyata menjadi penyumbang terbanyak terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Angkanya cukup signifikan mencapai 60 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). 
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika bidang ekonomi digital, Lis Sutjiati, mengatakan, berkaca dari kondisi tersebut pemerintah pun saat ini sedang mengupayakan para pelaku UMKM untuk dapat “naik kelas” dengan memanfaatkan platform digital. 
“Jumlah UMKM terus bertumbuh, termasuk dari startup. Itu yang akhirnya memberikan pengaruh terhadap PDB, kita harus dorong dan membantu mereka untuk Go Digital,” ujar Lis dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (11 Juli 2019). 
Sayangnya, pertumbuhan ekonomi digital yang ada saat ini kurang dilengkapi dengan literasi keamanan siber (cybersecurity) kepada pelaku UMKM. Sebab, transakasi di era digital memungkinkan banyak ancaman siber. 
Kurangnya pengetahuan soal keamanan siber diungkapkan oleh pelaku UMKM yang memasarkan produknya melalui Instagram dan Facebook. Suhartini, Pemilik Han’s Handmade dan Cuisine, mengatakan, tidak menyadari bahaya yang didapat saat ia memasarkan produknya secara online. 
“Saya tidak paham soal peretasan akun dan yang berhubungan dengan internet, saya hanya paham soal bagaimana membuat password yang baik, mungkin kalau mendengar soal ancaman-ancaman itu harus ada literasi kepada kami para pelaku UMKM supaya tak merugi ya,” kata Tini asal Depok, Jawa Barat ini
Hal senada juga disampaikan Melly Andriani, pemilik produk kerajinan, Melly Craft, yang menjual melalu salah satu e-commerce. Menurut, literasi keamanan siber memang sangat diperlukan, termasuk cara-cara pencegahannya agar tidak terkena peretasan.
“Sempat ada salah seorang teman yang akun Instagram dan Facebooknya diretas sampai digunakan untuk penipuan. Ini pentingnya literasi mengamankan bisnis kami di era digital ini,” ujar dia.
Pemerintah tahun ini memiliki target untuk mengangkat 8 juta UMKM melalui program UMKM Go Onlie untuk “naik kelas” dengan masuk pasar daring (marketplace).
Sebelumnya, Direktur Jenderal APTIKA Kemkominfo Semuel A Pangerapan mengatakan, tujuan pemasaran melalui marketplace supaya bisa membangun ekonomi digital Indonesia berkembang lebih pesat.
“Program ini tidak hanya mengenalkan kepada para pelaku UMKM terkait saluran pemasaran, tetapi juga dapat meningkatkan penjualan dan tren yang ada,” ujar Semuel.
Semuel melanjutkan, tren belanja melalui online saat ini telah menjadi lumrah. Semuel menilai, belanja melalui marketplace lebih aman karena ada yang menjamin privasi ketimbang belanja melalui platform media sosial. “Kalau (belanja) lewat media sosial, kalau terjadi apa-apa, siapa yang bisa menjamin? Siapa yang bisa dihubungi?” ujar Semuel.
Direktur Shopee Indonesia Handika Jahja mengungkapkan, e-commerce di Indonesia memiliki potensi yang menjanjikan. “Saya yakin ekonomi digital Indonesia akan tumbuh maksimal melalui sumber daya yang akan terus beradaptasi dengan tren global,” ujar Jahja.
“Tentu, kami akan terus mendorong dan membantu UMKM di Indonesia untuk terus tumbuh sehingga tidak hanya bersaing di lokal, tetapi juga secara global,” Jahja menambahkan.
Redaktur: Andi Nugroho