Jika Hengkang dari China, Foxconn Sarankan Apple ke Taiwan | BECABUILT

Jika Hengkang dari China, Foxconn Sarankan Apple ke Taiwan

Taipei, becabuilt.technology – Pendiri Foxconn, Terry Gou, meminta agar Apple Inc. melirik Taiwan jika memang China tak memungkinkan lagi dipakai sebagai tempat produksi iPhone. Ia menyatakan hal itu seiring wacana Apple memindahkan antara 15-30 persen produksi dari China.
Wacana hengkanya Apple dari China lantaran perselisihan dagang Amerika Serikat-China kian meruncing setelah AS juga menerapkan kenaikan tarif impor terhadap segala jenis barang dari China, termasuk suku cadang dan perangkat iPhone.
“Berbicara dari perspektif Republik China, saya akan memohon kepada Apple untuk datang ke Taiwan. Saya percaya itu bisa dilakukan,” kata Terry yang menjadi pemegang saham terbesar di Hon Hai Precision Industry Co Ltd., induk perusahan Foxconn, seperti dikutip dari Bloomberg. Selama ini Foxconn adalah pemasok terbesar iPhone dan suku cadang ke Apple.
Namun, Louis Woo, asisten khusus Terry, mengatakan, yang dimaksud bosnya itu bukan memindahkan pabrik dari China ke Taiwan, tapi Apple diminta untuk investasi di Taiwan.
Sebelumnya, Apple mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk membatalkan rencana pemberlakukan kebijakan tarif impor baru untuk barang-barang China.
Pemerintah AS berencana memberlakukan tarif impor terhadap produk-produk China senilai US$ 300 miliar. Rencana, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China X Jinping akan bertemu di KTT G20 di Jepang, pekan ini.
Dalam suratnya ke Gedung Putih pada Kamis (20 Juni 2019), perusahaan iPhone itu mengatakan, jika tarif itu dibatalkan akan meringankan perusahaannya. Tarif yang diusulkan tersebut soalnya mencakup produk-produk utama, termasuk iPhone, iPad, dan Airpod serta suku cadang yang digunakan untuk memperbaiki perangkat di AS.
“Kami mendesak pemerintah AS untuk tidak mengenakan tarif pada produk-produk tersebut,” tulis Apple dalam suratnya kepada Perwakilan Dagang AS Robert Lightizer seperti diberitakan BBC, yang diakses Jumat (21 Juni 2019).
Menurut Apple, dengan tarif impor baru  akan merusak daya saing globalnya juga memangkas kontribusi yang dapat diberikan ke Departemen Keuangan AS.
Apple mengatakan, bahwa perusahaannya termasuk pembayar pajak perusahaan terbesar ke pemerintah dan menegaskan akan menyumbangkan lebih dari US$ 350 miliar untuk perekonomian AS selama lima tahun.
Jika tarif impor itu diberlakukan, Apple mengatakan, akan menerima pukulan besar karena perusahaan China dan non-AS lain tidak memiliki pasar signifikan di AS.
Tak hanya Apple yang merasakan pukulan itu. Desakan serupa juga disampaikan sejumlah perusahaan, di antaranya Keurig Dr Pepper Inc, Dollar Tree Inc, dan Fitbit Inc.
Indonesia Dibidik
Pada Rabu (19 Juni 2019), Nikkei Asian Review mengatakan, Apple telah meminta sejumlah rekanan pemasok besarnya untuk mengevaluasi perpindahan antara 15 persen hingga 30 persen dari produksi iPhone untuk keluar dari China.
Asia Tenggara menjadi alternatif yang dilirik Apple, tulis Reuters. Sejumlah negara yang masuk dalam pertimbangan adalah Indonesia, Vietnam, dan Malaysia. Di luar ASEAN, negara yang bakal dipertimbangkan adalah Meksiko dan India.
Awal Juni, lembaga pemeringkat kredit Fitch sempat mengeluarkan pendapat terkait hubungan dagang AS dan China. Jika China melakukan hal serupa seperti AS yang membuat daftar hitam perusahaan (Huawei, salah satunya), kemungkinan besar yang terkena imbas adalah Apple, Dell Technologies, dan HP Inc.
Seperti diketahui, selama ini Apple bekerja sama dengan Foxconn, Pegatron Corp, dan Wistron Corp untuk perakitan iPhone; Quanta Computer Inc untuk produksi MacBook; Compal Electronics Inc untuk iPad; dan Inventec Corp, Luxshare-ICT, dan Goertek dalam produksi AirPods.
Apple hingga kini belum menetapkan batas waktu kapan hal itu akan dilakukan. Yang jelas, tarif impor US$ 300 miliar atas barang-barang China yang direncanakan berlaku 2 Juli mendatang bakal menggelembungkan biaya produksi iPhone.