Dua Faktor Menurut BI yang Hambat UMKM Go Digital | BECABUILT

Dua Faktor Menurut BI yang Hambat UMKM Go Digital

Jakarta, becabuilt.technology – Lebih dari 350 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) binaan Bank Indonesia siap masuk pasar digital (go digital).
Demikian disampaikan Kepala Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen Bank Indonesia, Budi Hanoto, di Jakarta, Selasa (9 Juli 2019).
Menurut Budi, saat ini Bank Indonesia telah membina 898 UMKM untuk go digital dan melayani pasar ekspor (go export), tapi baru 355 UMKM yang siap go digital.
“Dari binaan kami yang sudah siap go digital itu kebanyakan sudah menggunakan platform media sosial dan juga e-commerce untuk memasarkan produk mereka,” ujar Budi.
Menurut Budi, ada dua faktor yang menyebabkan UMKM masih sulit untuk naik kelas. Pertama ialah kurangnya pengetahuan mengenai teknologi dan kedua, kurangnya kuantitas dan kualitas dari produk yang dibuat.
Untuk persoalan go digital, kata Budi, Bank Indonesia sedang gencar melakukan literasi teknologi kepada para pelaku UMKM agar menggunakan internet untuk pemasaran, salah satunya melalui media sosial dan e-commerce.
“Sebenarnya mereka itu sudah mulai melek teknlogi dan internet, tapi kan belum semua. Ya kami terus lakukan literasi soal itu. Permasalahan utama, ya paling gap teknologi dan masih banyak blank spot di daerah-daerah terpencil. Padahal, dari UMKM yang dijual kan budaya dari daerah,” kata dia.
Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas, ia menambahkan BI telah memiliki program mulai dari pembiayaan, pembinaan, pembenaan kualitas manajemen, dan pemasaran.
Langkah mendukung UMKM bisa go digital dan go export, Bank Indonesia akan mengadakan pameran Karya Kreatif Indonesia di Jakarta Convention Center pada 12-14 Juli 2019. BI bekerja sama dengan para pelaku industri kreatif, salah satunya desainer Indonesia, Toton Januar yang banyak membuat produk dengan menggunakan kain etnik khas daerah di Indonesia.
Dalam kesempatan sama, Toton Januar mengharapkan, melalui pameran tersebut nilai jual dari kain-kain khas Indonesia seperti tenun dan batik bisa masuk kancah internasional. Ia juga merasa sangat beruntung bisa dilibatkan secara penuh dalam pameran yang diselenggarakan oleh BI.
“Kain kain tradisional kita sudah punya nilai jual, tinggal diperbaiki dari kualitas dan kuantitas saja. Dengan kerja sama pelaku industri kreatif dan UMKM, saya harap bisa meningkatkan nilai jualnya di pasar global,” ujar Toton.
Redaktur: Andi Nugroho