Begini Cara Pigeonhole Coffee Menjadikan Data Sebagai Emas | BECABUILT

Begini Cara Pigeonhole Coffee Menjadikan Data Sebagai Emas

Jakarta, becabuilt.technology – Director of Pigeonhole Coffee, Rifqi Rianputra, mengatakan penerimaan bisnisnya meningkat setelah mengambil keputusan dari hasil pengolahan dan analisis data.
Keputusan yang tepat setelah pengolahan data, kata dia, menjadi kunci bagaimana Pigeonhole Coffee mampu bertahan dalam persaingan bisnis kopi dan sajiannya di Jakarta. 
“Jadi yang kami lakukan adalah melihat data lebih dulu sebelum melakukan sesuatu. Setelah itu kami mengambil keputusan,” kata Rifqi saat memaparkan pengalamannya di acara A Cup of Moka di Jakarta, Selasa (25 Juni 2019).
Pigeonhole Coffee menggunakan layanan sistem aplikasi kasir Moka sebagai fasilitas pengumpulan data. Moka, kata dia, memberikan asupan data secara rutin kepada Pigeonhole Coffee untuk kemudian dijadikan bahan evaluasi dan analisis. 
Menurut dia, dari sekian banyak data yang diterima, hanya sebagian data yang terpakai untuk berbagai kepentingan. Yang paling umum adalah pola kebiasaan customer dan spending-nya.
“Karena prinsip data itu adalah segala sesuatu yang disuapi ke mulut kita, belum tentu semuanya dibutuhkan. Nah, data itu kita bongkar sendiri berdasarkan apa yang kita butuhkan. Jika butuh data sale, tentu data yang ditarik data sale saja.”
Rifqi mencontohkan bagaimana ia pernah mengambil keputusan untuk Pigeonhole Coffee saat berada di luar negeri. Ketika itu ia mendapat asupan data pembelian bahan baku, data pay out hingga data kedatangan customer ke gerai Pigeonhole Coffee. 
Setelah melakukan analisis, Rifqi kemudian mengontak karyawannya untuk segara mengeksekusi perintah yang diberikan. Alhasil, keputusan itu sangat tepat karena berujung dengan penerimaan bisnis meningkat dan customer yang betah semakin banyak.
“Waktu itu saya sedang di Malaysia dan harus mengambil keputusan mengubah sajian roti di Pigeonhole Coffee. Setelah mendapat informasi pengolahan data, saya ganti roti dari rasa coklat ke rasa srikaya. Saya mengganti hanya melalui ponsel, buka aplikasi Moka, lalu edit, tambah menu, ganti menu lalu finis.”
Data kebiasaan customer juga mampu membuat Rifqi dekat dengan konsumen. Ia mendapat asupan data kebiasaan dan pesanan customer per hari lewat email sehingga bisa diketahui siapa pemesan terbanyak dan yang apa jenis kopi yang dipesan.
“Misalnya si A sering datang memesan kopi B. Karena sering datang, kami jadi tahu kebiasaannya lewat data. Customer itu cuma bilang pesan yang biasa sehingga hal seperti itu yang membuat kami akrab,” ujarnya.
Umumnya layanan yang diberikan Moka terhadap Pigeonhole Coffee adalah merekam transaksi. Rekaman itu mampu menghitung data yang sebenarnya tampak sederhana, tapi dalam jumlah banyak sangat berharga. Misalnya berapa Capuccino terjual hari ini, berapa kue yang terjual hari ini, pekan ini dan sebulan.
“Semua data itu bisa kelihatan dan data seperti itu yang kami perlukan. Jadi Moka ini sebenarnya mesin kasir yang bisa merekap dan mengolah data.”
Pengembangan Fitur
VP of Brand Marketing Moka, Bayu Ramadhan, mengatakan Moka terus melakukan pengembangan fitur layanan kepada merchant yang kini jumlahnya mencapai 18 ribu. Dari jumlah itu, sebanyak 16 ribu merupakan pengguna aktif dan berbayar. 
“Itu menandakan kami yang terbanyak merchant-nya,” ujar Bayu.
Saat ini, kata dia, produk dan fitur Moka sudah mencapai 50 layanan, tapi tingkat penggunaan tidak sampai setengahnya. Bayu mengatakan ia terus melakukan literasi kepada merchant agar lebih maksimal dalam memanfaatkan layanan pengembangan bisnis terutama UMKM. 
Terbaru, Moka punya fitur layanan peer to peer lending sebagai akses modal. Bayu mengatakan Moka berkolaborasi dengan financial technology (fintech) sebagai bagian pengembangan bisnis.
“Kami juga berusaha reach out customer lewat email blast yang biasa digunakan oleh pihak ketiga, tapi kali ini kami jadikan fitur di Moka. Di situ kami informasikan perkembangan terbaru seperti akses permodalan.”