2030, Robotisasi Ambil Alih Pekerjaan di Sektor Manufaktur | BECABUILT

2030, Robotisasi Ambil Alih Pekerjaan di Sektor Manufaktur

London, becabuilt.technology – Robot menggantikan pekerjaan manusia bukanlah kabar baru. Sejak lama pabrik-pabrik otomotif telah mengadopsi robot untuk membantu produksi agar lebih cepat selesai dan menghasilkan produk dengan tingkat presisi yang seragam.
Dari tahun ke tahun, teknologi yang diadopsi kian canggih, terlebih di era transformasi digital seperti sekarang. Industri manufaktur-manufaktur mulai mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (artificial intellegence), machine learning, dan tentu saja robot.
Bahkan, menurut analisis Oxford Economics, sekitar 10 tahun lagi atau pada 2030 sekitar 20 juta pekerjaan di industri manufaktur di seluruh dunia telah dijalankan oleh robot.
“Laporan itu juga menunjukkan bahwa pengambilalihan oleh robot cenderung menghasilkan pekerjaan baru cepat, tapi juga berkontribusi pada ketimpangan pendapatan,” demikian analis Oxford Economics yang dirilis Rabu (26 Juni 2019) seperti dikutip dari CNN.
Saat ini penggunaan robot sedang meningkat; setiap robot baru yang telah diinstal (dioperasikan) menggantikan rata-rata 1,6 pekerjaan manufaktur.
China adalah salah satu negara yang menghadirkan peluang pertumbuhan teknologi otomatisasi. Negeri Tirai Bambu tersebut menyumbang seperlima dari robot-robot industri di dunia; dan sekitar sepertiga robot baru dioperasikan di negara tersebut.
“Beijing termasuk yang menginvestasikan robot untuk memposisikan dirinya sebagai ‘pemimpin’manufaktur global,” tulis Oxford Economics. Pada 2020, sekitar 14 juta robot bakal dioperasikan di China.
Efeknya apa?
Tentu saja daya kerja robot itu mengerek pertumbuhan ekonomi negara. Robot akan meningkatkan produktivitas serta memacu industri yang sebelumnya tidak ada. Meski nilai robot juga menjadi lebih murah ketimbang pekerja manusia karena nilainya jatuh dari tahun ke tahun. Nilai penyusutan unit rata-rata per tahun 11 persen antara 2011 hingga 2016.
Oxford Economics juga mengingatkan bahwa robot-robot itu juga membuat gangguan (disruptive) yang cukup serius.
Salah satunya: ketimpangan pendapatan pekerja.
“(Sebab), pergeseran besar (manusia ke robot) itu tidak akan terdistribusi secara merata di seluruh dunia, atau bahkan di dalam satu negara sendiri,” demikian laporan tersebut.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa efek negatif robotisasi dirasakan tak proporsional di wilayah berpenghasilan rendah ketimbang wilayah berpenghasilan tinggi di negara yang sama.”
Para pekerja yang memiliki pengetahuan dan inovasi di industri manufaktur cenderung terkonsentrasi di kota-kota besar. Dan, keterampilan mereka itu tentu saja lebih sulit untuk diotomatisasi. Itu sebabnya, laporan itu menyebutkan, daerah perkotaan akan lebih baik menghadapi peningkatan otomatisasi.
Secara keseluruhan, penggunaan otomatisasi pun akan menciptakan lapangan kerja baru dengan kecepatan sebanding dengan pekerjaan yang hilang; ini tentu saja menghilangkan kecemasan tentang masa depan suram dunia pekerjaan.
“Wilayah miskin yang diperkirakan kehilangan sebagian besar pekerjaan mungkin tidak akan menikmati manfaat dari penciptaan lapangan kerja baru tersebut lantaran kesenjangan dalam keterampilan,” tulis Oxford Economics. Akibatnya, peningkatan ketimpangan pendapatan antara kota dan desa atau antardaerah makin tinggi.
“Otomatisasi akan terus mendorong polarisasi wilayah di banyak negara maju,” tulis laporan itu.
Di sinilah, pemerintah atau pembuat kebijakan harus berpikir lagi bagaimana cara mengatasi ketimpangan pendapatan tersebut dan menghadapi era otomatisasi itu.
Laporan itu mencontohkan sejumlah negara di Amerika Serikat, seperti Oregon, Louisiana, Texas, Indiana, dan Nort Carolina yang rentan terhadap tren otomatisasi itu.
Di Oregon, misalnya, terlihat sekali adanya ketergantungan tinggi pada industri manufaktur, terlebih persaingan sejumlah sektor bisnis sudah tingkat global. Dengan kondisi itu, artinya para pekerja rentan terhadap kemajuan teknologi yang begitu cepat.
Sementara di Hawai, Washington DC, Nevada, Florida dan Vermont akan terlihat sedikit terkena imbas dari peningkatan otomatisasi. Sebab, manufaktur tak begitu berperan besar di wilayah itu.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?