Remaja Indonesia Ini Terima Beasiswa Google US$ 15.000 | BECABUILT

Remaja Indonesia Ini Terima Beasiswa Google US$ 15.000

Mountain View, becabuilt.technology – Celestine Wenardy, pelajar asal Indonesia, berhasil masuk dalam deretan penerima penghargaan di ajaang Google Science Fair 2019.
Atas kerja keras dia mengembangkan sebuah alat glukometer, remaja 16 tahun itu berhak mendapatkan beasiswa pendidikan sebesar US$ 15 ribu (sekitar Rp 2,1 miliar), kunjungan ke kantor pusat Virgin Galactic, dan bertemu dengan mentor teknik Virgin Galactic selama setahun.
Seperti dikutip dari Google Blog, yang diakses Rabu (31 Juli 2019), Celestine yang kini berada di kantor pusat Google di California, masuk dalam lima besar penerima penghargaan bersama Fionn Ferreira (penerima Hadiah Utama—Irlandia), Tuan Dolmen (Scientific American Innovator Award—Turki), Aman KA dan AU Nachiketh (National Geographic Explorer Award—India), dan Daniel Kazanstev (Lego Education Builder Award—Rusia).
Celestine mengembangkan alat glukometer yang dapat mengukur konsentrasi kadar gula dalam darah tanpa harus melakukan pengambilan sampel darah. Alat ini diharapkan dapat menjawab beberap akendala isu diabetes di Indonesia karena lebih murah dan mudah digunakan.
Di ajang tersebut Google menantang para pelajar untuk menyalurkan rasa ingin tahu dan kecerdasan mereka dalam menemukan, menyusun, atau membangun solusi atas hal-hal yang mereka sukai. Ajang itu diikuti 24 finalis dari 14 negara.
Ribuan pelajar turut berpartisipasi dan akhir pekan lalu kami menyambut 24 finalis dari 14 negara di seluruh dunia ke kantor pusat Google di California untuk mengumumkan para pemenang.
“Ada banyak sekali aplikasi yang kami terima dari berbagai disiplin STEM – mulai dari penggunaan AI untuk membantu mendeteksi penyakit pada tanaman hingga menemukan cara baru untuk mendiagnosis penyakit jantung,” tulis Google.
“Proyek-proyek tersebut sangat menarik dan tentunya memiliki dampak positif yang dapat  menjadi solusi bagi beberapa masalah terberat di dunia.”
Celestine adalah pelajar SMA di British School Jakarta. Dalam biodatanya, ia menyebut dirinya sebagai penggemar sains, ahli teh gelembung, pembaca buku, dan pemimpin.
Mengapa ia tertarik dalam bidang penelitian?
Menurut Celestine, dengan melakukan suatu penelitian, “Bagaimana satu masalah yang tidak dapat terpecahkan dapat didekati dalam banyak metode,” ujar dia.
“Sebagai seorang pencari persepsi dan wawasan, saya menemukan eksperimen memberi inspirasi, memberi saya visi baru tentang dunia yang tidak dapat ditemukan dalam buku pelajara atau silabus,” ujar pengagum pengusaha Elon Musk dan ilmuwan Stephen Hawking ini.
“Tapi, saya sangat menghormati Christiaan Eijkman, penerima Hadiah Novel yang telah bereksperimen dengan vitamin di Indonesia.”
Bagaimana tanggapan soal penghargaan ini?
Celestine mengatakan, penghargaan tersebut peluang dirinya sebagai akses untuk masa depan dirinyadi bidang penelitian. “Tinggal di negara ketiga, fasilitas teknologi dan penelitian yang langka, sehingga mempersempit pilihan saya untuk pengembangan dan karya ilmiah,” kata dia.
“Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan kepada anak-anak dan remaja di dunia, bahwa tidak terlalu dini untuk mulai bekerja menuju harapan dan ambisimu,” kata dia.
“Bahkan, jika sejumlah gadis remaja bisa mengembangkan perangkat yang memenangkan penghargaan, kamu juga dapat membuat perubahan yang serupa,” Celestine menambahkan.