Mengintip Jejak Fajrin Rasyid, Sang Presiden Bukalapak | BECABUILT

Mengintip Jejak Fajrin Rasyid, Sang Presiden Bukalapak

Jakarta, becabuilt.technology – Anda kenal Fajrin Rasyid?
Laki-laki berusia 33 tahun kelahiran Jakarta itu seorang presiden. Iya, presiden di salah satu startup terbesar di Indonesia, yaitu Bukalapak.
Menurut startupranking.com, situs web pemeringkat startup, Bukalapak adalah startup nomor 1 di Indonesia dengan skor 87.719 mengalahkan Blibli.com yang memiliki skor 87.416. Sayangnya di situs ini tidak terdapat pesaing berat Bukalapak seperti Tokopedia.
Setahun lalu, tepatnya 25 Juni 2108, Fajrin Rasyid diangkat sebagai Presiden Bukalapak. Fajrin bukanlah orang yang asing di dunia e-commerce Indonesia. 

Berita Terkait:

Kunci Bertahan di Dunia Startup Menurut Presiden Bukalapak

Di Bukalapak ia sebelumnya menjadi Chief Financial Officer selama tujuh tahun. Majalah SWA mengganjar dia sebaga CFO of The Year pada 2016. Kompas.com (25 Juni 2018) menuliskan bahwa Fajrin sebelum bergabung dengan Bukalapak pernah bekerja sebagai konsultan di Boston Consulting Group selama dua tahun.
Alumnus Teknik Informatika di Institut Teknologi Bandung ini bukan tipe mahasiswa biasa. Ia meninggalkan ITB pada 2004 dengan predikat Summa Cum Laude. Pada 2018 ia tampil sebagai pembicara di Endeavour Scale-Up Asia.
“Saya mensyukuri semua pencapaian yang telah saya raih hingga saat ini. Namun bagi saya, menjadi pribadi yang memiliki faedah bagi orang banyak akan lebih berharga dibandingkan dengan pencapaian tersebut” ujar Fajrin seperti dikutip dari Kompas.com.
Ketika diwawancarai Hipwee.com, Fajrin mengaku terbiasa dididik di keluarga menghargai tentang sebuah prioritas. Prinsip itulah yang kemudian diterapkan di kehidupannya. Menurut dia, penting menempatkan prioritas dengan baik yang berarti paham terhadap kekurangan dan kelebihan diri.
“Semisal, saya sudah merasa bisa di kalkulus, ya sudah. Saya cuma butuh waktu 1-2 jam saja untuk belajar. Beda kalau harus belajar bahasa Inggris. Saya akan mendedikasikan waktu lebih untuk mempelajari semuanya,” ujar dia.
Selepas dari BCG, Fajrin sempat mendirikan usaha sendiri pada 2011, Suitmedia, yang bergerak di bidang layanan web design dan web development. Mengapa dia pindah haluan dari usaha sendiri dan memilih ajakan teman kampusnya, Ahmad Zaky ke Bukalapak? 
“Salah satu hal yang sering anak muda kita salah artikan adalah passion soal sesuatu. Setelah merasa punya passion di suatu hal, kita sering menutup diri untuk tidak mencoba hal baru. Padahal passion adalah apa yang kita temui dari belajar dan bertemu banyak orang. Jangan pernah merasa settle dengan satu passion saja. Masih banyak yang harus dicoba,” begitulah kata dia.
Fajrin dan Zaky sudah akrab sejak masa kuliah. Ia juga teman seasrama di ITB. Keduanya memang sejak muda memiliki jiwa bisnis kuat. Tahu apa yang mereka lakukan di asrama? Jualan mie ayam. Namanya usaha tentu tak selalu sukses dan itu dialami mereka dengan jualan mie ayamnya.
Menurut Kompas.com (25 Mei 2016), sebetulnya saat masih BSG, Fajrin juga ikut membantu paruh waktu ketika Zaky awal-awal membangun Bukalapak. Ia mengurusi bagian keuangan. Bukalapak sendiri juga berdiri atas nama tiga orang, selain keduanya, masih ada satu nama lagi yaitu Nugroho Herucahyono, yang kini menjabat Chief Technology Officer Bukalapak.