Komunitas Blogger Bidik Masalah Etika dan Hukum | BECABUILT

Komunitas Blogger Bidik Masalah Etika dan Hukum

Jakarta, becabuilt.technology – Perkembangan digital membawa banyak keuntungan sekaligus tantangan dan bahkan ancaman. Maka itu, dua pakar jurnalisme dan digital, Tuhu Nugraha dan Anwari Natari mengangkat fenomena tersebut dalam acara Blogger Hangout Ke-36 bertema Kupas Tuntas Rezim Influencer: Etika dan Perlindungan Hukum Content Creator, Sabtu (3 Agustus 2019). 
Komunitas BloggerCrony berada di balik acara rutin tersebut. Kali ini, komunitas ini menghelat acara ini di Off Koffee Kaya, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Tak kurang dari 20 peserta yang umumnya berlatar belakang sebagai content creator dan influencer tersebut, meramaikan diskusi ini dengan antusiasme. 
Satto Raji yang merupakan salah satu pendiri Komunitas BloggerCrony tampil membuka acara. “Kami senang bisa berbagi bersama teman-teman di komunitas. Ini adalah pertemuan ke-36 yang sudah kita lakukan,” kata penulis dan juga blogger aktif tersebut. “Kami berharap, dengan diskusi yang mengangkat tema seputar etika dan perlindungan hukum content creator ini, memberikan banyak insight penting bagi para kreator.”
Zulfikar Akbar dari Cyberthread.id sekaligus pendiri Tularin.com, dinobatkan sebagai moderator dalam diskusi tersebut. Di depan para peserta ia mengemukakan harapan agar materi diskusi disampaikan kedua pembicara dapat menjadi referensi peserta dalam menjalankan aktivitas di dunia digital. 
“Kebetulan di sini yang tampil berbicara adalah dua pakar yang memang sudah banyak mencermati berbagai perkembangan digital,” Zulfikar menjelaskan. “Jadi, berbagai sudut pandang kedua ahlinya tersebut, bisa menjadi acuan agar berbagai kasus dan fenomena terkini di dunia siber tidak sampai mempersempit gerak kreator.”
Maka itu, sepanjang dua jam diskusi tersebut berlangsung, kedua pemateri secara bergantian membahas seputar tren yang terjadi hingga berbagai fenomena dunia digital.
Tuhu Nugraha banyak membidik seputar kesiapan para kreator, termasuk blogger, dalam menyesuaikan diri dengan tren kekinian. “Sebagai kreator, semestinya ini bisa menjadi investasi bagi kita semua. Artinya, apa yang kita lakukan tidak hanya menguntungkan corporate atau pihak yang kita bantu, tetapi juga kita sendiri di masa depan. Maka itu, hal-hal yang berkaitan dengan etika di dunia internet menjadi hal serius yang mutlak perlu diperhatikan banyak kreator,” ia menjelaskan. 
Lebih jauh Tuhu juga menjelaskan bahwa tidak sedikit influencer yang sebenarnya memiliki banyak pengikut di berbagai media sosial, misalnya, namun justru terhenti di tengah jalan. “Banyak yang merasa sudah di atas lalu merasa tidak perlu membangun kapasitasnya lagi. Sementara, dunia digital itu pun ibarat musim, terkadang ada musim semi dan ada juga musim gugur. Saat semua baik-baik saja, jangan sampai lengah hingga lupa mencermati berbagai kemungkinan yang dapat saja terjadi,” kata pakar digital tersebut.
Maka itu, Tuhu menegaskan, tak masalah seseorang menjadikan kegiatan sebagai kreator, entah sebagai blogger atau YouTuber, hanya sebagai sampingan. “Namun tetap mesti diingat bahwa bagaimana etika kita dalam bermedia sosial, dalam berinteraksi, itu sangat berpengaruh terhadap apa yang akan kita dapatkan dalam berinternet, dalam berkreasi,” kata dia lagi.
Sedangkan  Away, sapaan Anwari Natari, mengajak melihat perkembangan dunia digital dan momok yang acap muncul dari Undang-Undang Informasi dan Teknologi (UU-ITE).
Ia berterus terang menyayangkan bahwa ada UU yang rawan membuat para kreator dan masyarakat umumnya was-was dalam beraktivitas di dunia maya.
“Seperti kasus antara Garuda Indonesia dengan seorang influencer, menjadi besar, jadi perhatian banyak orang,” ia memberikan contoh. “Di sini beruntung, pihak Garuda masih terbuka terhadap kritikan, terlepas sempat jadi polemik. Pun mereka cerdas dalam menangani potensi keributan di tengah publik. Bahkan influencer tersebut akhirnya justru diapresiasi pihak Garuda.”
Menurut Away, dari kasus tersebut, para kreator dapat belajar banyak. Misalnya dalam melihat bagaimana memberikan kritikan, sepanjang dilandasi niat baik, maka takkan bermasalah.
“Terpenting niat baik. Sebab, dengan niat baik, maka bagaimana seseorang memberikan kritikan akan tetap berujung kebaikan,” katanya, menegaskan. “Dengan niat baik itu, kita pun akan terbantu untuk dapat menyampaikan kritikan dengan baik, dan ujungnya pun tetap baik bagi pemberi kritik dan penerima kritik.”
Maka itu, Away berharap para kreator pun dapat menjadikan itu sebagai acuan, terlepas mereka mengangkat tema apa saja di dunia internet melalui blog, YouTube, Instagram, Twitter, atau platform apa saja.
“Beberapa kali saya ditunjuk jadi saksi ahli dalam kaitan dengan kasus yang berhubungan dengan internet. Dari sana saya mendapatkan kesimpulan, bahwa ada peluang-peluang baik yang tetap bisa didapatkan para kreator kalaupun di luar dugaan tersandung kasus,” kata Away. “Catatannya adalah pastikan apa saja konten yang mau ditampilkan di internet tidak bermuatan menjatuhkan orang atau pihak lain. Kalaupun mengkritik, usahakan bisa memberikan kritik yang tepat, dan cara yang juga tepat.”
Tak pelak, para peserta pun menunjukkan antusiasme besar atas pemaparan kedua pembicara yang memang kerap tampil di berbagai diskusi seputar jurnalisme dan dunia digital tersebut. Sally Fauzi (40), salah satu peserta, mengakui bahwa tema diskusi dari acara Blogger Hangout yang digelar BloggerCrony tersebut sangat membantunya. “Apa yang saya dapatkan di sini terasa layaknya gizi,” kata dia.
Sementara Yayat (42), peraih penghargaan Kompasianer of the Year 2016, yang juga menjadi panitia acara ini pun berharap dengan diskusi begini membuat para pegiat konten di internet bisa mendapatkan ide-ide penting. “Maka itu, saya senang karena teman-teman kreator ini tidak hanya terpaku pada apa yang sudah mereka kuasai. Mereka juga punya antusiasme untuk terus mengembangkan diri.”
Sedangkan Wardah Fajri, jurnalis yang juga mengotaki berdirinya Komunitas BloggerCrony, menegaskan bahwa acara diadakan pihaknya memang ditujukan untuk membantu para kreator dapat mewarnai jagat internet dengan hal-hal positif.
“Kami memang memiliki anggota ribuan di berbagai daerah, termasuk di luar Jawa. Acara-acara begini pun sering kami adakan di luar Jakarta,” kata Wawa. “Kami memiliki harapan agar komunitas ini tidak saja tempat berkumpulnya banyak blogger atau kreator. Namun, dengan acara rutin begini, kami juga bisa berperan untuk meng-empower para kreator, dan membantu mereka mendapatkan wawasan-wawasan baru yang berkaitan langsung dengan dunia mereka.”
Sebagai catatan, Komunitas BloggerCrony ini sendiri lahir dari gagasan para blogger dan kreator yang berasal dari latar belakang berbeda. Selain Satto Raji dan Wawa Raji, juga terdapat Yayat dan Anesa Nisa. Komunitas tersebut telah berdiri sejak 2015 dan getol melakukan pemberdayaan dan edukasi di berbagai daerah. []    
Redaktur: Zulfikar Akbar